BER- AL QUR’AN ADALAH BENTUK KEBERKAHAN WAKTU

Sibuk, capek, anak-anak masih kecil bikin rempong, belum lancar membaca….

=========================

Allah swt berfirman :

(وَٱلۡعَصۡرِ ۝ إِنَّ ٱلۡإِنسَـٰنَ لَفِی خُسۡرٍ ۝ إِلَّا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ وَتَوَاصَوۡا۟ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡا۟ بِٱلصَّبۡرِ)

Artinya : Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran. [Surat Al-‘Ashr 1 – 3]

Surat yang pendek ini sudah cukup untuk memenuhi semua kebutuhan manusia, untuk menuntunnya menuju kesuksesan di dunia dan akhirat. Karena padatnya kandungan surat ini Imam Syafi’i menyampaikan, “seandainya manusia merenungkan makna surat ini, niscaya surat ini akan membuat mereka mendapat keluasan.”

Saudaraku, sahabat Al Qur’an.

Mungkin masih banyak kita dengarkan keluhan tentang kelemahan berinteraksi bersama Al Qur’an. Jangankan menghafal 30 juz, bahkan membaca-pun tidak sempat. Hari-harinya berlalu tanpa sentuhan Al Qur’an. Ada yang merasa tidak sempat membaca Al Qur’an karena sibuk, capek karena seharian bekerja, mengantuk, waktu habis untuk merawat si kecil….dan masih banyak lagi.

Pernah dengar kan, yang seperti ini? Atau bahkan pernah beralasan persis seperti ini? Hehehehe….

Yang perlu kita pahami, bahwa sesungguhnya kemampuan berinteraksi bersama Al Qur’an itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan pekerjaan. Tidak tergantung dengan jumlah anak, masih kecil-atau atau sudah besar. Juga tidak terkait dengan dia pejabat atau rakyat jelata. Percaya atau percaya? Mari kita buktikan.

Imam Nawawi dalam kitab At Tibyan fi Adabul Hamalatil Qur’an menuliskan sederet nama tokoh yang terkenal, para sahabat dan ulama’-ulama’ besar yang tentunya dengan kesibukan mereka bersama keluarga, kehidupan mencari nafkah, melayani umat di mimbar-mimbar pengajian bahkan berperang di jalan Allah swt namun masih mampu menorehkan prestasi yang gemilang bersama Al Qur’an. Diantara mereka ada yang mampu mengkhatamkan Al Qur’an sebulan sekali, setiap enam hari sekali, lima hari sekali, bahkan sehari sekali khatam Al Qur’an. Banyak pula diantara mereka yang mampu mengkhatamkan Al Qur’an sehari dua kali, bahkan sehari semalam khatam delapan kali. Masyaallah….

Bagaimana logikanya mereka bisa membaca secepat itu? Itu pertanyaan yang tidak penting. Yang jelas, tidak mungkin ulama’ sekelas Imam Nawawi menulis kitab dengan ngawur. Setuju kan???!!!.

Saya lebih tertarik menyimpulkan bahwa keberhasilan mereka dalam berinteraksi bersama Al Qur’an ini disebabkan keberkahan waktu yang mereka dapatkan. Mereka menjadikan kegiatan bersama Al Qur’an menjadi prioritas utama sehingga harus mengalahkan berbagai agenda yang kurang penting. Para ulama’ sering menghabiskan waktu malamnya dengan shalat yang panjang, di saat-saat yang sepi itulah mereka menemukan Al Qur’an bak hidangan lezat yang terasa begitu nikmat untuk dirasakan. Malam yang bagi sebagian orang selalu identik dengan tidur, mereka ganti dengan meraih keberkahan Ilahi. Ada juga sebagian mereka yang ketika menjelang hadir bulan Ramadhan kemudian mengalihkan semua kegiatan keilmuannya dan beralih kepada Al Qur’an. Sahabat Umar bin Khattab ra. tidak mau kelihangan keberkahan waktu perjalannya begitu saja, maka beliau membaca Al Qur’an disepanjang perjalanan bersama budaknya.

Nah saudaraku, terbayang bukan, kenapa mereka mampu berprestasi dalam hal interaksi bersama Al Qur’an???

Mari kita introspeksi diri. Sebenarnya bukan tidak ada waktu kita untuk Al Qur’an. Coba bandingkan kesibukan kita dengan Umar bin Khattab. Juga sibuk mana kita dengan Imam Syafi’i?

Yang menjadikan kita kehilangan waktu adalah sukanya kita memanfaatkan waktu untuk hal-hal yang tidak terlalu bermanfaat. Dalam perjalanan ke suatu tempat, begitu sampai tujuan apa yang kita pegang? Kalau ada waktu kosong apa yang kita pegang? Gadget sering sekali tanpa terasa merampas waktu kita. Bahkan sekedar update status, lihat Facebook, nonton tik tok, walaupun sebentar, namun itu terulang begitu banyaknya di sela-sela waktu kita sehingga menjadikan waktu itu begitu sempit. Coba bayangkan kalau waktu-waktu itu kita manfaatkan untuk membuka dan membaca Al Qur’an. Tiba di kantor, saat istirahat, ketika ada waktu kosong, bahkan ketika menunggu kehadiran teman, menunggu istri berdandan ketika mau bepergian, kalau waktu-waktu ini mampu kita manfaatkan untuk Al Qur’an, sungguh sekedar sehari hanya satu juz itu sesuatu yang teramat sangat ringan sekali.

Apa lagi yang menjadikan waktu kita belum banyak berkahnya????
Tidur masih menjadi agenda yang banyak menyita waktu kita. Delapan jam sehari, belum ditambah tidur siang, tidur saat khutbah Jum’at, tidur di waktu istirahat kerja, tidur di pengajian dan sebagainya. Cobalah mengurangi jam tidur barang lima belas menit saja. Insyaallah badan tetap segar dan Al Qur’an mendapatkan waktunya. Sekedar mengajukan waktu bangun kita barang 5 menit untuk membaca Al Qur’an, datang 5 menit lebih awal untuk menunggu shalat berjamaah, atau pulang terlambat 5 menit untuk memanfaatkan waktu bersama Al Qur’an.

Sumber utama kehilangan keberkahan sesungguhnya adalah karena kita belum menjadikan Al Qur’an sebagai agenda utama. Tidak ada motivasi dalam diri untuk menjadikan Al Qur’an sesuatu yang wajib diselesaikan. Atau bisa jadi belum mayakini keberkahan Al Qur’an ini.

Ketika ada motivasi yang kuat, yakinlah kita akan mampu melakukan lompatan yang dahsyat. Seorang hafidz bisa mengkhatamkan Al Qur’an sehari dalam acara doa kematian saudaranya, kenapa? Karena dia fokus dengan tugasnya yaitu membaca Al Qur’an sampai khatam. Seorang peserta mukhayyam Al Qur’an berhasil membaca Al Qur’an sehari sepuluh juz di tengah-tengah kesibukannya. Kenapa? Karena dia berkomitmen dengan agenda acara yang diikutinya. Seperti itulah hendaknya kita menjadikan Al Qur’an sebagai prioritas dalam keseharian kita.

Untuk menguatkan kembali, bagaimana dengan aktifitas makan anda? Apa yang terjadi ketika sudah tiba waktu makan? Sudah pasti, anda akan mencari makanan. Kalau di meja makan tidak tersedia menu makanan, pasti anda akan mencari, entah dengan jajan atau minta ke rumah saudara, yang penting dapat makan. Karena makan sudah menjadi kebutuhan, maka apapun akan dilakukan demi mendapatkannya. Nah, sekarang terkait dengan Al Qur’an apakah anda merasakan sebagai sebuah kebutuhan atau justru menjadi beban. Kalau Ber-Al Qur’an dirasakan sebagai beban maka pasti akan terasa memberatkan, akan selalu ada saja alasan yang keluar untuk membenarkan kemalasan bersamanya. Agar hal itu tidak terjadi, pastikan bahwa bersama Al Qur’an adalah kebutuhan anda. Maka, dengan segala cara anda pasti akan mencari sarana dan prasarana yang mendukung agar selalu bisa bersamanya. Ketersediaan waktu bukan masalah, karena demi kebutuhan, waktu bisa diatur, bukan anda yang diatur waktu. Terkait kesibukan, semua ada porsinya sendiri, sebab kerja itu kebutuhan sebagaimana Al Qur’an juga kebutuhan yang harus dipenuhi. Tempat bukan alasan yang tepat untuk meninggalkan Al Qur’an, dimanapun tempatnya sekarang anda bisa membacanya. Di masjid, kantor, pasar, bahkan di pinggir jalan. Ingat kan kisah seorang pemulung kecil yang membaca Al Qur’an di trotoar kota Bandung di tengah rintik hujan? Mushaf bukan kendala, sebab di era digital sekarang, HP bisa diisi dengan Al Qur’an. Akan menyedihkan ketika HP dipenuhi dengan berbagai file musik, gambar, video namun tidak cukup untuk mendownload aplikasi Al Qur’an. Tentu sangat ironis sekali.

Tak ada alasan untuk meninggalkan Al Qur’an, sebab mengabaikan kebutuhan akan berdampak fatal terhadap kehidupan. Sebagaimana ketika anda meninggalkan makan akan sakit, begitu juga dengan Al Qur’an. Ketika dia ditinggalkan maka akan mengakibatkan penyakit kronis dalam diri anda. Termasuk bentuk penyakit itu adalah membenarkan keburukan itu dengan alasan-alasan yang sesungguhnya hal itu adalah cara setan untuk menghiasi keburukan manusia sehingga seakan-akan menjadi sebuah kebenaran.

(وَزَیَّنَ لَهُمُ ٱلشَّیۡطَـٰنُ أَعۡمَـٰلَهُمۡ فَصَدَّهُمۡ عَنِ ٱلسَّبِیلِ وَكَانُوا۟ مُسۡتَبۡصِرِینَ)

Artinya : Dan setan menjadikan mereka memandang baik perbuatan-perbuatan mereka, lalu ia menghalangi mereka dari jalan (Allah), sedangkan mereka adalah orang-orang yang berpandangan tajam [Surat Al-Ankabut 38]

Alasan-alasan yang sering terlontar sekilas kelihatan benar. Kesibukan kerja, ibu-ibu yang rempong mengurus pekerjaan rumah dengan anak yang masih kecil-kecil. Namun, kalau kita renungkan sekali lagi, para sahabat, ulama, dan saudara kita yang lain yang bisa istiqamah bersama Al Qur’an tentunya juga bukan pengangguran. Mereka bekerja dan beraktifitas juga seperti kita, namun mampu merasakan keindahan bersama Al Qur’an disepanjang aktifitasnya.

Bagitulah seharusnya bersama Al Qur’an. Tak ada satupun alasan untuk tidak membersamainya di sepanjang umur kehidupan kita di dunia ini. Sesibuk apapun, semalas apapun, kalau Al Qur’an sudah menjadi kebutuhan tentu akan ditunaikan hak-nya. Umar bin Abdul Aziz di tengah-tengah kesibukannya memaksakan diri untuk membaca Al Qur’an sambil menyampaikan, “agar aku tidak termasuk dalam golongan orang yang meninggalkan Al Qur’an”. Malulah kita kalau menjadi orang yang diwadulkan Rasulullah saw kepada Allah swt. gara-gara melalaikan Al Qur’an sebagaimana firman-Nya :

(وَقَالَ ٱلرَّسُولُ یَـٰرَبِّ إِنَّ قَوۡمِی ٱتَّخَذُوا۟ هَـٰذَا ٱلۡقُرۡءَانَ مَهۡجُورࣰا)

Artinya : Berkatalah Rasul, “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ini suatu yang tidak diacuhkan.” [Surat Al-Furqan 30]

Waktu adalah karunia Allah swt kepada hamba-Nya yang diberikan sebagai ujian. Apakah kita mampu memanfaatkan waktu dengan baik, mengambil peluang demi peluang yang terbentang setiap saat untuk kebaikan diri kita atau sebaliknya, menjadi manusia yang terlindas dengan kesibukan-kesibukan duniawi sehingga terlena dan lupa bahwa dia diciptakan untuk kehidupan dunia dan akhirat. Maka, kunci menggapai keberkahan waktu adalah dengan senantiasa berkomitmen dengan amal solih, berkomitmen untuk selalu bersama Al Qur’an, kapanpun, dimanapun dan bagaimanapun kondisinya. Tentunya hal ini akan terasa nikmat ketika dilandasi dengan keimanan bahwa Al Qur’an ini sumber kehidupan. Janji-janji Allah swt terhadap orang yang bersama Al Qur’an, tentang kemuliaan pribadi maupun umat yang dijanjikan-Nya semua harus terbayang di pelupuk mata. Selanjutnya berusahalah berkumpul dengan orang solih agar selalu mendapatkan nasihat kebaikan serta inspirasi dari mereka. Berkumpul dengan ahlul Qur’an baik berteman langsung dengan mereka atau melalui grup-grup online di media sosial, membaca kisah-kisah kebaikannya insyaallah akan mampu menggerakkan hati agar terpacu semangat kita. Dan yang terakhir, tentunya bersabar dalam setiap langkah ketaatan. Jangan menyerah dalam kemalasan, jangan menikmati keterpurukan. Bersabar dan segera bangkit untuk menongsong sebuah kemuliaan. Allahummarhamna bil Qur’an

÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷
Pati, 20/9/2021
Pelayan SMPIT INSAN MULIA
FULLDAY AND BOARDING SCHOOL
Pati, Jateng.
nanangpati@yahoo.co.id

Tebarkan Kebaikan
whatsapp