CEMBURU

÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷
Rasulullah saw bersabda :

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا ذَكَرَ خَدِيجَةَ أَثْنَى عَلَيْهَا فَأَحْسَنَ الثَّنَاءَ قَالَتْ فَغِرْتُ يَوْمًا فَقُلْتُ مَا أَكْثَرَ مَا تَذْكُرُهَا حَمْرَاءَ الشِّدْقِ قَدْ أَبْدَلَكَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهَا خَيْرًا مِنْهَا قَالَ مَا أَبْدَلَنِي اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ خَيْرًا مِنْهَا قَدْ آمَنَتْ بِي إِذْ كَفَرَ بِي النَّاسُ وَصَدَّقَتْنِي إِذْ كَذَّبَنِي النَّاسُ وَوَاسَتْنِي بِمَالِهَا إِذْ حَرَمَنِي النَّاسُ وَرَزَقَنِي اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَلَدَهَا إِذْ حَرَمَنِي أَوْلَادَ النِّسَاءِ

Artinya : Ketika Rasulullah saw menyebut-nyebut kebaikan Khadijah ra., timbullah kecemburuan di hati Aisyah ra. Aisyah ra. menceritakan, “Apabila Nabi saw mengingat Khodijah ra., beliau selalu memujinya dengan pujian yang bagus. Maka pada suatu hari saya merasa cemburu hingga saya berkata kepada beliau; ‘Alangkah sering engkau mengingat wanita yang ujung bibirnya telah memerah, padahal Allah azza wa jalla telah menggantikan untuk engkau yang lebih baik darinya. Serta merta Rasulullah saw bersabda: “Allah Azza wa jalla tidak pernah mengganti untukku yang lebih baik darinya, dia adalah wanita yang beriman kepadaku di saat manusia kafir kepadaku, dan ia membenarkanku di saat manusia mendustakan diriku, dan ia juga menopangku dengan hartanya di saat manusia menutup diri mereka dariku, dan Allah telah mengaruniakan anak kepadaku dengannya ketika Allah tidak mengaruniakan anak kepadaku dengan istri-istri yang lain.” (HR. Ahmad)

Cemburu adalah hal yang wajar dalam kehidupan seorang suami dan istri. Bahkan bisa jadi cemburu itu tanda cinta. Orang cemburu karena merasa takut kehilangan pasangannya.

Namun, rasa cemburu ini harus ditata sedemikian rupa agar mampu menghasilkan bunga-bunga cinta dalam kehidupan rumah tangga. Bila tidak, tidak menutup kemungkinan, cemburu inilah yang bisa merontokkan bangunan rumah tangga.

Bagaimana mengelola rasa cemburu ini?

1. MENJAGA AMANAH DALAM RUMAH TANGGA

Ingatlah bahwa berumahtangga itu adalah mengemban amanah. Amanah Allah swt sekaligus amanah orangtua. Pernikahan adalah amanah Allah swt, sebab hubungan kedua insan ini dikukuhkan dengan kalimat-Nya, sampai Allah swt menyebut hubungan yang mulia ini dengan kalimat misaqan ghalidha artinya ikatan yang kokoh. Amanat orangtua, sebab hubungan ini telah mengambil alih tanggungjawab orangtua yang selama ini telah merawat dengan penuh kasih sayangnya, kemudian beralih kepada orang lain yang bisa jadi belum dikenalnya dengan sempurna. Maka, setiap pasangan suami istri harus senantiasa menjaga amanah ini. Merusaknya sama dengan merusak hubungan dengan Allah swt sekaligus merusak hubungan dua keluarga besar.

Hendaknya seorang suami menjaga pandangannya, mengendalikan pergaulannya dan sekali-kali tidak melakukan perbuatan yang mendekati perzinaan. Ketika berkomunikasi dengan lawan jenis, ikutilah aturan-aturan syaraiat. Jaga pandangan, jangan menyendiri berdua, sebab yang ketiga adalah setan. Jangan berbincang atau bercanda dengan kalimat-kalimat yang berbau porno atau mengarah kepada hal-hal yang menciderai kesetiaan, sebab dari candaan itu bisa jadi setan masuk untuk menjadikan kalimat-kalimat yang indah sehingga merusak amanah kesetiaan. Demikian halnya ketika sedangan berkomunikasi di dunia maya melalui WhatsApp, Facebook, Instagram atau lainnya. Tidak selayaknya seorang suami memandang foto wanita lain yang dijadikan status di medsos secara berlebihan atau bahkan memuji postingan seorang wanita secara berlebihan. Tidak etis juga apabila seorang suami sering chatting secara pribadi dengan wanita lain, kecuali ada hal penting yang harus disampaikan, apalagi chattingnya dimalam hari sampai tengah malam. Hati-hati, setan bisa masuk melalui jalan manapun juga.

Demikian juga seorang istri, hendaknya menjaga diri dalam pergaulan. Tidak berlebihan dalam bersolek ketika keluar rumah. Cukupkanlah kecantikan dan bau wangimu engkau persembahkan untuk suami. Bagi wanita karier, jagalah adab-adab dengan lawan jenis. Tutuplah auratmu dengan benar. Jangan bertingkah laku yang bisa menjadi lawan jenismu tergoda, bicaralah dengan suara yang wajar, jangan berdua-duaan dengan laki-laki yang bukan muhrim, tersenyumlah tanpa ada rekayasa dan tetap ingat bahwa dirimu milik suamimu. Ingatlah selalu pesan Allah swt

(وَقُل لِّلۡمُؤۡمِنَـٰتِ یَغۡضُضۡنَ مِنۡ أَبۡصَـٰرِهِنَّ وَیَحۡفَظۡنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا یُبۡدِینَ زِینَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنۡهَاۖ وَلۡیَضۡرِبۡنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُیُوبِهِنَّۖ وَلَا یُبۡدِینَ زِینَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوۡ ءَابَاۤىِٕهِنَّ أَوۡ ءَابَاۤءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوۡ أَبۡنَاۤىِٕهِنَّ أَوۡ أَبۡنَاۤءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوۡ إِخۡوَ ٰ⁠نِهِنَّ أَوۡ بَنِیۤ إِخۡوَ ٰ⁠نِهِنَّ أَوۡ بَنِیۤ أَخَوَ ٰ⁠تِهِنَّ أَوۡ نِسَاۤىِٕهِنَّ أَوۡ مَا مَلَكَتۡ أَیۡمَـٰنُهُنَّ أَوِ ٱلتَّـٰبِعِینَ غَیۡرِ أُو۟لِی ٱلۡإِرۡبَةِ مِنَ ٱلرِّجَالِ أَوِ ٱلطِّفۡلِ ٱلَّذِینَ لَمۡ یَظۡهَرُوا۟ عَلَىٰ عَوۡرَ ٰ⁠تِ ٱلنِّسَاۤءِۖ وَلَا یَضۡرِبۡنَ بِأَرۡجُلِهِنَّ لِیُعۡلَمَ مَا یُخۡفِینَ مِن زِینَتِهِنَّۚ وَتُوبُوۤا۟ إِلَى ٱللَّهِ جَمِیعًا أَیُّهَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ)

Artinya : Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak darinya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara mereka, atau putra-putra saudara lelaki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman, supaya kalian beruntung. [Surat An-Nur 31]

2. Berprasangka Baik

Ketika sudah ada saling percaya antar pasangan, insyaallah akan terbangun satu kekuatan yang kokoh dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Semua suara yang masuk melalui seleksi yang ketat sehingga tidak menjadi desas-desus. Semua tindakan terukur sehingga menghasilkan sesuatu yang produktif. Namun demikian, semilir angin tidak selamanya menyejukkan, terkadang badai datang untuk mengguncang dan mencoba melihat seberapa kuat bangunan rumah tangga yang ditancapkan. Maka, setiap orang mukmin hendaknya mengedepankan husnudhan dalam menyikapi segala informasi. Peganglah pesan Allah swt. yang dijelaskan panjang lebar di dalam surat Al Hujurat. Tip’s yang perlu dipegang adalah : 1) Ikuti tuntunan Allah swt dan Rasul-Nya. 2) Jangan sembarangan percaya dengan semua informasi 3) Tabayyun, mingalah klarifikasi, apalagi informasi yang di dapatkan dari orang yang tidak jelas kridibilitasnya 4) Pegang teguh ikatan suci, 5) Selalu berdamai dengan segala situasi. Cari orang yang bisa mengeratkan ikatan suci, 6) Jauhi desas-desus, 7) Cari sisi-sisi kebaikan pasanganmu,. 7) Terus berjuang dengan penuh istiqamah untuk membangun rumah tangga surgawi

Bukankah rumah tangga Rasulullah saw juga pernah digoyang issue? Peristiwa hadisul ifki, yaitu ketika Sayyidatina Aisyah ra. tertinggal dari rombongan dalam sebuah perjalanan pulang ke Madinah, kemudian terpaksa ditemani seorang laki-laki digoreng dengan panasnya oleh orang-orang munafiq sehingga tersiar issue perselingkuhan antara orang yang mulia tersebut. Kesabaran Rasulullah saw dalam menyikapi issue ini mengantarkan kaum muslimin secara umum dari fitnah besar, sekaligus mendudukkan orang-orang munafiq dalam posisinya yang sesungguhnya. Kisah ini berakhir dengan happy anding berkat kekuatan Rasulullah saw dalam berpegang kepada Allah swt, Dzat yang Maha Mengetahui.

3. Saling Memaafkan

Tidak ada gading yang tak retak. Manusia adalah makhluk yang lemah. Maka, sudah sewajarnya apabila ada kesalahan yang dilakukan oleh pasangan disikapi dengan saling memaafkan dan kembali menguatkan komitmen kebersamaan. Bukankah visi membangun rumah tangga adalah membangun ketaqwaan. Di awal surat An Nisa’ Allah swt mewanti-wanti setiap manusia yang diciptakan berpasang-pasangan itu agar bergaul dalam bingkai taqwa. Dia memulai ayat dengan perintah taqwa, sekaligus mengakhiri dengan pesan taqwa pula.

(بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِیمِ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِی خَلَقَكُم مِّن نَّفۡسࣲ وَ ٰ⁠حِدَةࣲ وَخَلَقَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا وَبَثَّ مِنۡهُمَا رِجَالࣰا كَثِیرࣰا وَنِسَاۤءࣰۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ٱلَّذِی تَسَاۤءَلُونَ بِهِۦ وَٱلۡأَرۡحَامَۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَیۡكُمۡ رَقِیبࣰا)

Artinya : Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan Kalian yang telah menciptakan kalian dari seorang diri, dan darinya Allah menciptakan istrinya; dan dari keduanya Allah memperkembang-biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah. kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kalian saling meminla satu sama lain, dan peliharalah hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kalian. [Surat An-Nisa’ 1]

Untuk memperoleh derajat taqwa, salah satu indikator yang harus ada dalam diri setiap muslim adalah berlapang dada untuk saling memaafkan. Manusia yang pandai menahan amarah, tidak tempramental, segala sesuatu disikapi dengan kepala dingin serta membuka pintu maaf seluas-luasnya kepada orang-orang yang berbuat salah kepadanya. Allah swt berfirman :

(ٱلَّذِینَ یُنفِقُونَ فِی ٱلسَّرَّاۤءِ وَٱلضَّرَّاۤءِ وَٱلۡكَـٰظِمِینَ ٱلۡغَیۡظَ وَٱلۡعَافِینَ عَنِ ٱلنَّاسِۗ وَٱللَّهُ یُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِینَ)

Artinya : (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. [Surat Ali ‘Imran 134]

Sebaliknya, bagi pasangan yang memang bersalah, berseralah untuk bertaubat dan meminta maaf kepada pasangan. Tidak perlu menutup hati dengan gengsi karena sesungguhnya meminta maaf itu mulia, bukan sebuah kehinaan. Orang yang mau bertaubat adalah orang yang mampu menghargai dirinya sendiri. Yakinlah, tidak ada yang jatuh reputasinya hanya gara-gara minta maaf ikhlas karena Allah swt. Janganlah manusia biasa, Rasulullah saw saja pernah diluruskan Allah swt., dan justru dengan kelapangan beliau untuk membenahi diri menjadikan beliau semakin layak menapaki maqam tertinggi bagi manusia yaitu uswatun hasanah. Setelah meminta maaf, tentunya diikuti komitmen untuk memperbaiki diri agar semakin hari semakin baik hubungan suci itu, semakin lengket dalam ikatan sakinah, mawaddah wa Rahmah. Allah swt berfirman :

(وَٱلَّذِینَ إِذَا فَعَلُوا۟ فَـٰحِشَةً أَوۡ ظَلَمُوۤا۟ أَنفُسَهُمۡ ذَكَرُوا۟ ٱللَّهَ فَٱسۡتَغۡفَرُوا۟ لِذُنُوبِهِمۡ وَمَن یَغۡفِرُ ٱلذُّنُوبَ إِلَّا ٱللَّهُ وَلَمۡ یُصِرُّوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلُوا۟ وَهُمۡ یَعۡلَمُونَ)

Artinya : Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengumpuni dosa selain dari Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedangkan mereka mengetahui.[Surat Ali ‘Imran 135]

4. Cemburulah sewajarnya

Kalau cemburu itu wajar, maka cemburulah sewajatlah. Setiap orang mempunyai sesuatu yang istimewa di hatinya. Demikian pula pasangan kita. Adakalanya dia harus mencurahkan perhatiannya kepada orangtua, atau ketika ada pekerjaan penting yang harus segera diselesaikan di kantornya, atau dia memphnyai opsesi besar demi kebahagiaan rumah tangganya. Terkadang, berbagai hal itu menyita perhatian sehingga pasangan merasa terabaikan. Solusinya tentunya adalah komunikasi yang bagus antar pasangan. Ingatlah, bahwa setelah menikah anda terikat dalam ikatan yang menyatukan anda. Satu dalam rumah, satu dalam cita-cita, satu dalam hati bahkan bersatu sampai surga. Dalam kondisi kesatuan yang dibatasi dengan perbedaan fisik dan kejiwaan ini dibutuhkan seni dalam komunikasi. Jangan ada yang disembunyikan, bahkan kalau bisa tidak diperlukan memasang password di hand phone ketika bersama pasangan. Biarkanlah pasangan anda membuka dan mengetahui semua yang ada di dalam hand phone dan media sosial anda, membaca postingan-postingan anda, bahkan mengetahu gambar-gambar yang di sana ada tanda jempol ada (like). Kenapa? Inilah rumus jitu dari Rasulullah saw.

عَنِ النَّوَّاسِ بْنِ سَمْعَانِ اْلأََنْصَارِيِّ ، قَالَ : سَأَلْتُ رَسُوْلَ اللّٰـهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْبِرِّ وَاْلإِثْمِ ، فَقَالَ : اَلْبِرُّ حُسْنُ الْـخُلُقِ ، وَاْلإِثْمُ مَا حَاكَ فِـيْ صَدْرِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Artinya : Dari an-Nawwâs bin Sam’ân al-Anshari, ia berkata: “Aku bertanya kepada Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kebajikan dan dosa, maka beliau menjawab, “Kebajikan adalah akhlak yang baik dan dosa adalah apa yang membuat bimbang (ragu) hatimu dan engkau tidak suka dilihat (diketahui) oleh manusia.” [HR. Muslim]

Jadi, kalau memang

  • Anda orang baik
  • Anda orang yang amanah
  • Anda pasangan hang setia
  • Anda mencintainya sehidup semati

tidak ada yang perlu disembunyikan dari si dia, biarkanlah dia mengetahu semua yang ada dalam diri anda, karena hakikat anda berdua adalah SATU.

🧡🧡🧡🧡🧡🧡🧡🧡
SELAMAT MERAJUT MAHLIGAI YANG SAKINAH, MAWADDAH WA RAHMAH

🧡🧡🧡🧡🧡🧡🧡🧡

Pati, 29/12/2020
Pelayan SMPIT INSAN MULIA BOARDING SCHOOL PATI, JATENG
nanangpati@yahoo.co.id

Tebarkan Kebaikan
whatsapp