HAFALAN YANG KURANG GIZI

÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷

Allah swt berfirman :

(ٱلَّذِینَ یَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ قِیَـٰمࣰا وَقُعُودࣰا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمۡ وَیَتَفَكَّرُونَ فِی خَلۡقِ ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تِ وَٱلۡأَرۡضِ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ هَـٰذَا بَـٰطِلࣰا سُبۡحَـٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ)

Artinya : (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. [Surat Ali ‘Imran 191]

Pernahkah anda melihat anak atau orang yang kekurangan gizi? Fisik yang ringkih, sering sakit-sakitan, wajahpun layu. Di usia anak-anak dia akan tertinggal dalam perkembangannya baik fisik maupun psikis. Anak yang seharusnya tangkas, tringginas, bermain dan bermain layaknya teman seusianya, harus tersingkir karena tidak mempunyai kemampuan yang ideal. Mengapa hal ini terjadi? Salah satu sebab yang sangat berpengaruh adalah kurangnya kandungan gizi dalam makanannya. Kurangnya kandungan gizi atau makannya tidak memenuhi takaran sesuai yang dibutuhkan tubuh.

Saudaraku, itulah gambaran seorang penghafal Alquran yang tidak memperhatikan murajaah. Bagi penghafal Alquran, murajaah adalah suplemen penting yang menentukan kesehatan hafalannya. Seberapa baik kualitas hafalannya ditentukan seberapa baik dia dalam mengatur pola murajaahnya. Ibarat makan, anak kecil cukuplah dia dengan porsi satu piring kecil. Seiring dengan perkembangan usia dan fisiknya, maka harus semakin banyak pula porsi makannya. Begitupun hafalan Alquran. Semakin banyak hafalannya, harus semakin banyak pula murajaahnya.

Bagi yang baru hafal satu juz, murajaah sehari satu surat bisa jadi masih tidak berpengaruh terhadap lancarnya hafalan. Namun, semakin banyak hafalannya, satu juz sehari sangat tidak memenuhi untuk menjaga kualitas hafalan. Tentu harus dipahami bahwa ini kebutuhan harus harus ditunaikan dengan disiplin, tidak bisa sesukanya atau menunggu mood baru murajaah. Tidak ada standar pasti berapa banding berapa, namun semakin sering murajaah akan semakin bagus pula kualitas hafalannya. Yang namanya kebutuhan, kalau tidak dipenuhi pasti akan menimbulkan problem yang sangat serius. Kalau porsi murajaah tidak seimbang, maka hampir bisa dipastikan hafalan akan kocar-kacir. Bahkan ada mantan penghafal Alquran, karena hafalan yang tidak lagi kepegang.

Kenapa Harus Rutin Murajaah

Logika di atas sudah cukup memberikan gambaran betapa urgen murajaah bagi para penghafal Alquran. Namun, ada esensi lain yang mau saya sampaikan kepada sahabat Alquran sekalian. Sesungguhnya tujuan menghafal Alquran itu untuk mendapatkan kemuliaan di sisi Allah swt. Dengan sarana banyak membaca firman-Nya kita berharap agar Dia menurunkan rahmat-Nya. Semua janji kemuliaan yang disampaikan Rasulullah saw terkait Alquran semuanya terkait dengan orang yang membaca Alquran, bukan sekedar hafal Alquran. Yang mendatangkan pahala yang dilipatgandakan setiap hurufnya itu ketika membaca Alquran, bukan yang sudah hafal Alquran. Untuk bisa menduduki maqam tertinggi di surga itu dengan membaca, bukan sekedar sertifikat hafalan atau julukan penghafal Alquran. Inilah pentingnya mengulang dan terus mengulang hafalan. Yang namanya sahibul Quran itu orang yang sangat dekat dan selalu bersama Alquran baik membaca, menghafal, mengulang, maupun mentadabburi dan mengamalkan. Maka, dengan terus mengulang hafalan akan semakin mendatangkan pahala dan kemuliaan. Hafalan yang belum lancar akan semakin lancar dengan mengulang. Yang namanya lancar itu konsekuensi logis dari sebuah pengulangan. Maka, bagi anda yang merasa sudah mengulang-ulang namun belum juga lancar, niatkanlah mengulang itu untuk menggapai ridhai Allah swt melalui Alquran. Setiap kali anda mengulang, semakin banyak pula pahala yang diberikan. Ingat, Dia tidak menilai kelancaran, namun yang dinilai adalah seberapa banyak anda membaca. Sekali, dua kali, tiga kali kok belum lancar, ulangi aja setiap hari. Maka pahala anda akan terus menggunung dan insyaallah anda akan menemukan saatnya hafalan anda semakin mantab. Bukankah untuk mampu menendang ke gawang dengan tepat seorang pemain sepak bola harus berlatih menendang berulang-ulang? Ingatkah anda sewaktu kecil ketika berlatih berjalan, berapa kali anda jatuh? Kerasnya usaha seorang anak untuk jatuh dan bangun lagi, jatuh lagi dan bangun lagi akhirnya menghasilkan kemampuan berjalan yang kokoh. Tidak hanya jalan, bahkan diapun mampu berlari. Begitupun menghafal saudaraku, jalan pernah anda memusatkan diri pada lancar, sebab kemampuan membaca tanpa melihat mushaf itu hanyalah hasil duniawi yang tidak banyak berpengaruh kepada kedudukanmu di sisi-Nya. Konsentrasikan diri pada memperbanyak mengulang ayat-ayat Alquran dan keistiqamahan bersama kitab-Nya agar anda tidak cepat frustasi kemudian meninggalkan kemuliaan itu. Ulang dan terus ulangi ayat-ayat itu sebagaimana anda membaca surat cinta dari kekasihmu.

Kedisiplinan dalam murajaah juga akan mendekatkan ikatan emosional anda dengan Alquran. Semakin sering Anda ketemu dengan seseorang, akan semakin dekat pula hubungan anda. Sebaliknya, semakin jarang anda bertemu, semakin jauh pula hubungan anda. Hal ini tentunya ketika pertemuan itu dilandasi dengan cinta. Maka, ketika anda nikmatilah ayat-ayat itu. Ingat, targetnya adalah membaca ayat Alquran sebanyak-banyaknya, soal lancar itu akan mengikuti dengan otomatis. Untuk menikmati murajaah, anda bisa memanfaatkan waktu istirahat, ketika perjalanan, atau kadang kala anda harus meluangkan waktu khusus untuk sekedar meninggalkan berbagai kesibukan untuk menikmati kesendirian anda bersama Alquran yang anda cintai. Bukankah Rasulullah saw juga pernah uzlah ke gua Hira untuk menikmati kebersamaan dengan sang pencipta.

Seringkali yang menjadikan agenda murajaah menjadi beban berat adalah tidak adanya prioritas untuk Alquran. Menganggap Alquran sebagai sampingan sehingga berinteraksi dengannya-pun sekenanya atau menunggu sempat. Pada akhirnya, tidak akan pernah sempat bersamanya dan semakin lama semakin renggang pula hubungannya dengan Alquran. Ketika murajaah tidak menjadi prioritas, pelan tapi pasti, hafalan itu semakin kocar-kacir. Lebih tragisnya lagi nafsu anda akan menemukan “alasan-alasan pembenaran” untuk sebuah kelalaian terhadap kenikmatan besar yang pernah dikaruniakan kepada anda.

  • Ah, kan ada mushaf, kenapa harus susah-susah menghafal
  • Seribu satu jalan menuju surga, kan tidak hanya Alquran saja
  • Susah menghafal, saya memang gak bakat

Alasan-alasan ini sering muncul seakan-akan menjadi pembenar kelalaian itu. Yang kita khawatirkan sesungguhnya adalah ketika hati ini tidak lagi tertarik dengan firman dari sang Maha Mulia. Ketika kesibukan dunia mendominasi hati sehingga tidak lagi rindu dengan akhirat. Yang paling dikhawatirkan sesungguhnya firman-Nya :

(سَیَقُولُ لَكَ ٱلۡمُخَلَّفُونَ مِنَ ٱلۡأَعۡرَابِ شَغَلَتۡنَاۤ أَمۡوَ ٰ⁠لُنَا وَأَهۡلُونَا فَٱسۡتَغۡفِرۡ لَنَاۚ یَقُولُونَ بِأَلۡسِنَتِهِم مَّا لَیۡسَ فِی قُلُوبِهِمۡۚ قُلۡ فَمَن یَمۡلِكُ لَكُم مِّنَ ٱللَّهِ شَیۡـًٔا إِنۡ أَرَادَ بِكُمۡ ضَرًّا أَوۡ أَرَادَ بِكُمۡ نَفۡعَۢاۚ بَلۡ كَانَ ٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِیرَۢا)

Artinya : Orang-orang Badui yang tertinggal (tidak turut ke Hudaibiyah) akan mengatakan, “Harta dan keluarga kami telah merintangi kami, maka mohonkanlah ampunan untuk kami, ” mereka mengucapkan dengan lidahnya apa yang tidak ada dalam hatinya. Katakanlah, “Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah jika Dia menghendaki kemudaratan bagimu atau jika Dia 👍menghendaki manfaat bagimu?” Sebenarnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. [Surat Al-Fath 11]

Mencari-cari pembenaran atas kemalasannya tunduk kepada Allah swt, itulah tipe orang-orang kafir yang sesungguhnya tidak akan berdampak apapun juga kepada-Nya, sebab Dia Maha Segalanya. Sesungguhnya, kita-lah yang butuh Dia. Dengan mengulang-ulang Alquran itu kita berharap Dia akan memasukkan kita ke dalam golongan ulul albab yang senantiasa dzikir mengingat Allah swt dalam kondisi duduk, berdiri maupun berbaring sebagaimana yang dijelaskan dalam ayat di atas, dan Alquran adalah dzikir yang paling mulia dibandingkan kalimat yang lain. Dan yang paling kita khawatirkan sesungguhnya adalah ketika Dia menutup kehidupan kita di dunia yang fana ini, sedangkan kita pada posisi keimanan yang lemah. naudzu billahi min dzalika.

Yuk, murajaah terus dan teruslah murajaah sampai Allah swt menjadikan kita ahlul Qur’an yang sesungguhnya. Amin

=====================

Pati, 5/10/2021
Pelayan SMPIT INSAN MULIA PATI
Fullday and Boarding School
Pati, Jateng

Tebarkan Kebaikan
whatsapp