JADIKAN KECANTIKANMU HANYA UNTUK SUAMIMU

=======================
Inspirasi Qur’ani

Membangun Keluarga Samawa

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Artinya : Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al ahzab; 59)

Salah satu pondasi kokohnya rumah tangga adalah “kepemilikan” yang mutlak seorang suami atas istrinya. Ayat ini menginsprasi kita tentang kemuliaan seorang wanita yang sebegitu mulianya mereka dalam Islam. Karena wanita itu sangat berharga, maka dia harus dijaga. Siapa yang menjaga? Tentu orangtua bagi yang masih lajang dan suaminya bagi yang sudah menikah.

Sebagai gambaran sederhana, Bagaimana kalau harta berharga anda yang harusnya dinikmati sendiri justru menjadi barang tontonan yang begitu mudahnya dinikmati setiap orang. Begitulah eksistensi seorang istri bagi suaminya. Dia menjadi milik suaminya seutuhnya. Sudah sepantasnya kalau semua yang ada dalam diri istri, diri dan kecantikannya tidak diberikan kecuali untuk suaminya saja. Wahai para suami, relakah anda berbagi kecantikan istri anda dengan orang lain? Tentu setiap orang tidak rela dengan hal itu. Karena sebegitu mahalnya diri seorang wanita, maka harus ada pembeda dengan wanita-wanita lain. Dan karena mahalnya kehormatan seorang wanita, maka tidak selayaknya diobral untuk sembarang orang. Hanya orang-orang spesial sajalah yang layak menikmatan keindahan seorang wanita mulia itu.

Tak jarang kita temukan, seorang wanita yang mengumbar tubuhnya kemana-mana. Berdandan dan bersolek sedemikian rupa hingga berbagai macam aksesoris menempel di tubuhnya. Rambut disemir terurai agar terlihat menarik, celana ketat dan baju yang kecil sehigga tidak muat menutupi semua tubuhnya. Muter kemana-mana dengan dengan bagian tubuh yang terlihat “dipamerkan”. Terus pertanyaannya, untuk siapa itu semua? Siapakah gerangan yang akan menikmati pemandangan itu? Kalau dia sudah mempunyai suami, layakkah memamerkan tubuhnya kepada laki-laki lain? Bagaimana kalau kemudian ada laki-laki lain yang tertarik, kemudian menggodanya? Bukankah akan menimbulkan fitnah bagi orang itu dan keluarganya?

Saudaraku, inilah ketinggian Al Qur’an memuliakan wanita agar menjadi seorang manusia istimewa yang semua kecantikannya hanya diperuntukkan bagi suaminya. Dengan itu bangunan rumah tangga akan dipenuhi dengan kepercayaan dan kesetiaan. Maka agar kecantikan seorang istri benar-benar hanya milik suaminya, hendaklah seorng istri menaati perintah Allah swt dalam ayat ini. Ketika bersama suaminya, silahkan bersolek dan berpakaian sebebas-bebasnya, sebab memang suami berhak menikmati kecantikan istrinya. Sebaliknya, ketika ada orang lain yang bukan muhrim atau sedang keluar rumah hendaknya menutup dirinya dengan pakaian yang menutup aurat, yaitu seluruh anggota tubuh kecuali wajah dan telapak tangan, memakai pakaian yang longgar (tidak ketat), tebal (tidak transaparan) serta tidak bersolek yang berpotensi menimbulkan fitnah dalam kehidupan masyarakat.

Yang menarik dalam ayat ini adalah perintah Allah swt yang ditujukan kepada Nabi-Nya agar menasihati wanita-wanita beriman. Istri dan anak Nabi secara otomatis adalah orang yang beriman. Kalimat “nisa’il mukminin”/istri-istri orang beriman, menunjukkan kedudukan keimanan yang menjadi standar terlaksananya perintah ini. Bagi orang yang yakin akan kedudukan Allah swt dan rasul-nya, tidak ada masalah baginya menaati semua perintah-Nya, tidak ada resistensi sedikitpun ketika perintah itu datang dari Dzat yang Maha segala-galanya. Tidak ada alasan sedikitpun dalam dirinya untuk membangkang perintah-Nya, bahkan sekedar menawar. Inilah yang disampaikan Allah swt :

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

Artinya : Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (QS. Al Ahzab; 39)

Begitulah seharusnya respon orang beriman atas setiap perintah Allah swt dan rasul-Nya. Bagaimana agar hal ini bisa muncul dalam kehiduapan? Kuncinya adalah meyakini/beriman kepada Allah swt dan rasul-nya. Meyakini dengan seyakin-yakinnya bahwa Dia adalah pencipta alam semesta ini, yang merawat dan berkuasa mengakhiri kehidupan di alam semesta. Dia juga yang mempunyai otoritas membuat perintah dan larangan bagi hamba-Nya. Dan semua perintah yang datangnya dari-Nya pasti untuk kebaikan manusia.

Demikianlah diantara cara Allah swt menjaga eksistensi rumah tangga agar kokoh eksistensinya Diantara problem rumah tangga masa kini adalah diumbarnya kacantikan wanita kepada semua orang, entah secara langsung maupun melalui media sosial. Selain keluar rumah dengan memamerkan aurat, yang mengkhawatirkan juga adalah begitu mudahnya seorang wanita memamerkan dirinya melalui media sosial. Foto profil yang menampilkan kegenitan atau upload aktifitas privat yang tidak seharusnya dilihat orang lain, yang berpotensi menjadikan fitnah dalam rumah tangga. Dari upload gambar kemudian menimbulkan komentar. Dari sekedar bercanda akhirnya chating berdua, selanjutnya saling curhat dan terjadilah apa yang tidak seharusnya terjadi. Apalagi bagi suami istri yang berjauhan, sungguh ini menjadi bahaya yang siap mengoyak kokohnya rumah tangga.

Selain pakaian, tentu wanita solihah akan selalu tertata dalam berhias. Bisakah anda tetap cantik tanpa menggoda laki-laki lain? Kuncinya adalah tidak tabarruj. Apa itu? Tidak berlebihan dalam berdandan, tidak menampakkan perhiasan yang seharusnya tidak ditampakkan. Diantara budaya wanita jahiliyah zaman dulu adalah tidak merapikan pakaiannya demi untuk menampakkan perhiasannya di depan publik. Berdandan menor sehingga memancing perhatian orang lain. Sekarang banyak juga kita temukan, wanita yang jilbabnya sengaja disembunyikan di dalam baju agar tampil modis. Kalung yang besar melingkar di lehernya yang juga sekaligus menampakkan buah dada yang seharusnya dia tutup rapat. Pelanggaran demi pelanggaran dilakukan, fitnah demi fitnah terjadi sehingga bangunan rumah tangga yang kokoh digerogoti dengan etika yang tidak syar’i. Maka pesan Allah swt kepada wanita muslimah adalah tidak menampakkan perhiasaan yang seharusnya disembunyikan dengan berbagai cara.

{ وَلَا یَضۡرِبۡنَ بِأَرۡجُلِهِنَّ لِیُعۡلَمَ مَا یُخۡفِینَ مِن زِینَتِهِنَّۚ }

Artinya : Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan [Surat An-Nur: 31]

Karena wanita itu sendiri adalah perhiasan, maka syariat ini menempatkannya di tempat yang paling mulia agar keberadaannya menambah indahnya kehidupan ini. Begitulah Islam membimbing kalian wahai wanita muslimah.

Rasulullah saw mewanti-wanti agar menghindari tampilan telanjang yang dibalut busana indah ini dengan sabdanya :

“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim)

Alangkah ruginya kalau yang dimaksudkan beliau adalah kita, maka perbaikilah pakaianmu, jagalah kehormatanmu. Agar semua itu tidak terjadi pada diri kita, maka berpakaianlah yang baik. Libatuq taqwa, ya, pakaian taqwa itu yang terbaik. Berpakaian dan berpenampilan dengan landasan taat kepada Allah swt sang pemilik keindahan. Penampilan yang sesuai dengan kaidah-kaidah syariat agama, itu yang menjamin akan memunculkan kenyamanan dan keamanan diri serta terhindar dari fitnah. Apa yang memang terlihat, ya biarlah dia ditampilkan seadanya tanpa berlebih-lebihan sebab hal itu berpotensi menjadi penyakit hati. Apa yang seharusnya ditutup, ya biarkanlah tertutup dengan rapi, sebab itu milik suami, bukan konsumsi publik.

Semoga sekarang sudah terbayang di benak para istri solihah, bagaimana menata penampilan agar tetap modis, namun tidak meninggalkan kaidah-kaidah kekokohan rumah tangga. Bukankah seorang juga semakin banyak model pakaian bagus yang tidak melanggar syariat. Tetap modis, namun syar’i.

Setelah itu, bagaimana perilaku seorang istri agar betul-betul hanya menjadi milik suami semata? Mari kita temukan inspirasi Qur’ani berikutnya. Karena seorang wanita solihah harus beda dengan wanita kafir, maka tata cara berbicaranya juga harus ditata dengan baik agar tidak menimbulkan fitnah bagi rumah tangga. Pernahkah anda melihat seorang wanita yang tampilannya begitu gemulai, bicaranya kemenyek, centil, dengan nada suara yang dibuat-buat sehingga menjadikan anda tersihir dengannya? Tentu hal ini tidak layak dilakukan oleh seorang istri yang mendambakan keluarga samawa. Berbicaralah sewajarnya agar timbul kenyamanan dalam interaksi dengan masyarakat. Coba rasakan, bagaimana kalau istri anda yang bersikap seperti itu di depan laki-laki lain, saya yakin anda tidak nyaman dengan kondisi itu, sebab anda suami beriman yang mendambakan keluarga samawa. Inilah yang menjadi perhatian Allah swt dalam mendidik istri-istri Nabi saw.

{ یَـٰنِسَاۤءَ ٱلنَّبِیِّ لَسۡتُنَّ كَأَحَدࣲ مِّنَ ٱلنِّسَاۤءِ إِنِ ٱتَّقَیۡتُنَّۚ فَلَا تَخۡضَعۡنَ بِٱلۡقَوۡلِ فَیَطۡمَعَ ٱلَّذِی فِی قَلۡبِهِۦ مَرَضࣱ وَقُلۡنَ قَوۡلࣰا مَّعۡرُوفࣰا }

Artinya : Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik, [Surat Al-Ahzab: 32]

Nah, perhatikanlah pendidikan dari Dzat yang Maha Mengetahui ini. Di luar bisa jadi banyak orang yang tak mampu mengendalikan nafsunya. Dengan keimanan yang seadanya, orang-orang ini harus diselamatkan dari fitnah. Caranya adalah dengan menjaga perilaku agar tidak menimbulkan penyakit hati. Bicaralah yang biasa-biasa saja dengan tetap menjaga kesopanan. Insyaallah anda akan tetap menjadi manusia mulia di hadapan orang lain. Sebaliknya, dengan melunakkan suara, justru anda akan kehilangan kemuliaan diri karena orang akan melihat bahwa anda itu murahan.

Oleh karena itu, mari kita kokohkan bangunan rumah tangga dengan landasan iman. Jaga kesetiaan dengan menjaga kehormatan diri. Sebagai seorang istri, berusahalah tampil semenarik mungkin di hadapan suami, dan tampillah di luar dg menjaga adab-adab yang telah Allah swt bimbing kepada kita.

Pati,
Pelayan SMPIT INSAN MULIA PATI JATENG
Fullday and Boarding School
nanangpati@yahoo.co.id

Tebarkan Kebaikan
whatsapp