Ku Berharap Menjadi Karyawanmu Ya Rabbiy

Oleh: Mahfuz Abdul Rajak, S.Pd

Alhamdulillah ku bersyukur bisa bernafas karena-Mu, ku bersyukur bisa merasa, ku bersyukur bisa meraba, ku bersyukur bisa mendengar, ku bersyukur bisa melangkah, ku bersyukur bisa menikmati semua nikmat yang -Kau- berikan, dan ku bersyukur bisa berada dalam keimanan dengan kepasrahan dijalan-Mu. Salamku dan hormatku selalu kusanjungkan kepadamu wahai panutanku Muhammad SAW.

Disaat menyendiri, lalu kurenungkan tentang diriku, betapa perihnya lika-liku kehidupan yang kujalani pada masa lalu. Saat ini dan mungkin saja saat nanti, perih juga rasanya tuk selalu berada dalam kegelisahan ini. Kegelisahan yang seolah tak akan sirna, ia bagaikan makhluk dan mencoba membisikkan kata-kata manisnya lewat telingaku: ”hei kau, aku adalah dirimu dan kau tak akan bisa lepas dariku”!, astaghfirullah!, mendengarnya airmata yang tadinya hendak membanjiri pipihku seketika hanya menghembus dalam batinku, sakit memang tapi begitulah.

Diatas adalah bagian dari ilustrasi problematika kehidupan dunia yang nyata menyambar sisi-sisi kehidupan manusia. Kita tarik pada fakta real, ada banyak diluar sana yang menjadi pengangguran meski hakikatnya adalah para akademik yang lulusan kampus sarjana namun tak bisa mendapatkan pekerjaan yang baik, bukan saja pekerjaan yang layak namun mendapatkan pekerjaan saja tak ada. Hal ini membuat kita bertanya-tanya kenapa demikian? Apa salahnya?. Padahal sesungguhnya orang tersebut menginginkan pekerjaan sehingga dapat mandiri tanpa bergantung dengan orang lain.

Begitulah penampakan dari bagian yang banyak dalam realita kehidupan dunia dan kebutuhan sebagai manusia akan hidup secara mandiri dan disiplin hidup yang tinggi. Sekarang, dalam realita kehidupan seorang muslim. Apa orientasi kita sebagai muslim? Apa tujuan kita selama ini dari sejak kita dilahirkan lalu ketika berumur 10 tahun orangtua kita memukul dengan rotan agar bisa pergi mengaji dan lancar membaca Al-Qur’an dan istiqomah menjalankan ibadah sholat 5 waktu?. Sederhana memang, saat itu dibenak kita menjelaskan karena orangtuaku menginginkanku agar menjadi anak yang baik anak yang sholeh dan sholehah, juga bisa menjadi orang yang bermanfaat dimasa akan datang. Namun lebih dari itu, sesungguhnya mereka menginginkan agar hidup kita meraih keridhoaan Allah ta’ala, sehingga bisa mengantarkan kita ke surga saat maut menjemput.

Pernahkah kita untuk merenungi dan membawa kegelisahan ini: bahwa hanya untuk mendapatkan keridhoan Allah ta’ala atas apa yang kita lakukan itu membutuhkan proses bertahap dan butuh kesabaran dalam menjalankannya, bayangkan saja jika setiap hari kita harus mandi lalu dalam 5 waktu harus berwudhu lalu kemudian berniat dan melafazkan niat hingga dilanjutkan bertakbir mengangkat kedua tangan sampai akhirnya salam kanan kiri dan dilanjutkan berdzikir lalu berdo’a, semua itu kita lakukan hanya sebatas rutinitas tanpa ada tujuan yang pasti! Apakah Allah ridho?!,. saatnya diri ini mulai bertanya; kenapa? Apa yang salah?. Dasar dari kegelisahan ini adalah muaranya niat dan kemudian puncaknya juga niat itu sendiri yaitu orientasi hidup sebagai seorang muslim demi mendapatkan tujuan sebenarnya yaitu ridho sang ilahi.

Oleh karena itu semua, sudah saatnya kita mengajukan surat lamaran pekerjaan dan mencari pekerjaan pada Allah ta’ala sang pemberi pekerjaan, tapi pertanyaannya: kok begitu?! Bagaimana caranya..? jawabannya singkat dan sederhana: LIHATLAH DIRIMU!, dari kalimat ini teringat dengan perkataan para ulama salaf: ”Jika engkau ingin melihat derajatmu disisi Allah ta’ala, maka lihatlah dirimu!”. Untuk itu, marilah kita baca dan renungi pesan-pesan Nabi kita melalui hadit-haditsnya berikut:

قَالَ رَسُولُ اللَّه صلى الله عليه وسلم: «إِذَا أَرَادَ اللَّهُ عز وجل بِعَبْدٍ خَيْرًا عَسَلَهُ» قِيلَ: وَمَا عَسَلُهُ؟ قَالَ: «يَفْتَحُ اللَّهُ عز وجل لَهُ عَمَلًا صَالِحًا قَبْلَ مَوْتِهِ، ثُمَّ يَقْبِضُهُ عَلَيْهِ» (مسند الإمام أحمد، حديث رقم: 17438)

Artinya : Rosulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Apabila Allah azza wa jalla menghendaki kebaikan untuk seorang hamba, maka Dia akan memaniskannya dengan madu”. Sahabat bertanya : “Apa maksud memaniskannya dengan madu?”. Beliau menjawab : “Allah azza wa jalla bukakan untuknya pintu amal shalih sebelum meninggalnya, baru kemudian Dia mencabut nyawanya.” [Musnad Ahmad, Hadits No. 17438].

Ada lagi riwayat :

حَدَّثَنَا حَيْوَةُ بْنُ شُرَيْحٍ، وَيَزِيدُ بْنُ عَبْدِ رَبِّهِ، قَالَا: حَدَّثَنَا بَقِيَّةُ بْنُ الْوَلِيدِ، حَدَّثَنِي بَحِيرُ بْنُ سَعْدٍ، عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ، حَدَّثَنَا جُبَيْرُ بْنُ نُفَيْرٍ، أَنَّ عُمَرَ الجُمَعيّ حَدَّثَهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: «إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا اسْتَعْمَلَهُ قَبْلَ مَوْتِهِ» فَسَأَلَهُ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ: مَا اسْتَعْمَلَهُ؟ قَالَ: «يَهْدِيهِ اللَّهُ عز وجل إِلَى الْعَمَلِ الصَّالِحِ قَبْلَ مَوْتِهِ، ثُمَّ يَقْبِضُهُ عَلَى ذَلِكَ» (مسند الإمام أحمد، حديث رقم: 16884).

Artinya : Haywah bin Syuraih dan Yazid bin Abdur Rabbih menuturkan kepada kami : keduanya berkata : Baqiyah bin Al Waliid menuturkan kepada kami, Bahiir bin Sa’ad menuturkan kepada saya dari Khalid bin Ma’dan, Jubair bin Nufair menuturkan kepada kami bahwa Umar Al Juma’iy menuturkan : bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Apabila Allah menghendaki kebaikan untuk seorang hamba, Dia akan mempekerjakannya sebelum kematiannya”. Lalu salah seorang (sahabat) bertanya : “Bagaimana Allah mempekerjakannya?” Beliau menjawab : “Allah memberinya petunjuk untuk beramal shalih sebelum meninggalnya, baru kemudian Allah mencabut nyawanya dalam keadaan ia beramal shalih.” [Musnad Al Imam Ahmad, no. 16884].

Dari hadits-hadits itu menjelaskan jika kita benar-benar diterima Allah ta’ala sebagai karyawannya maka lihatlah posisi diri kita saat ini, apabila memang saat ini kita sedang sholeh-sholehnya beramal maka itu bukti kalau Allah menerima anda sebagai karyawannya. Begitupula sebaliknya jika saat ini kesholehan anda pas-pasan apalagi jauh dari sifat kesholehan tentu anda bukanlah orang yang berada pada posisi baik-baik saja, renungkan lalu intropeksi diri.! Dibulan yang penuh berkah, rahmat dan maghfirohnya Allah ini kita manfaatkan untuk menjadi karyawan yang profesional.

Tebarkan Kebaikan