MENGENAL PROGRAM TAHFIDZUL QUR’AN SMP IT INSAN MULIA PATI (bag. 1)

Problematika umat manusia (khususnya bangsa Indonesia) yang  tidak pernah selesai adalah salah satu akibat dari jauhnya umat manusia dari sumber kebaikan yang diberikan oleh Allah swt. Allah sebagai pemilik dan pencipta alam semesta ini tentunya lebih mengetahui akar masalah dan terapi untuk mengatasi masalah tersebut. Untuk itulah Allah swt menuruhkan al qur’an kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam agar digunakan sebagai sumber keberkahan dan solusi problematika umat di dunia ini sepanjang masa.

Hal ini terkait langsung dengan sistem pendidikan yang ada di negeri ini (terutama pendidikan Islam) yang tidak lagi menjadikan al qur’an sebagai prioritas.  Umat terdahulu menemukan kejayaaan karena mereka menjadikan al qur’an sebagai landasan ilmu pengetahuan. Banyak tokoh ilmuwan dan pergerakan yang ternyata menyimpan sejarah gemilang prestasinya bersama Alquran. Ibnu Sina yang terkenal sebagai tokoh kedokteran dunia ternyata menyelesaikan hafalan Alquran sebelum usia 10 tahun. Imam Syafii, seorang imam madzhab yang terkenal konsep pemikiran fiqihnya ternyata menjadikan al quran tertanam di dalam jiwanya sejak usia 9 tahun. Begitulah, para tokoh-tokoh besar menyimpan kunci kesuksesan ini dalam dadanya dan menjadikannya sebagai landasan menimba ilmu dan arah perjuangan mereka di kemudian hari.

Belajar dari hal di atas, maka SMP IT Insan Mulia membuka kelas tahfidzul quran. Kelas ini didesain dengan pelajaran tahfidzul quran tanpa meninggalkan pelajaran sesuai peraturan pemerintah dan diperkaya kurikulum kekhasan Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT Indonesia). Harapannya sekolah mampu membina siswa-siswi yang mempunyai hafalan al qur’an, berilmu dan berkarater Islami serta mampu berkontribusi dalam amal Islami untuk kemajuan bangsa dan negara.

foto bersama santri putra program tahfidzul quran

Proses pembelajaran tahfidzul quran dilakukan dalam system boarding school (sekolah berasrama). Setiap siswa wajib tinggal di asrama agar lebih mudah menambah dan menjaga hafalannya. Proses pembelajaran dilakukan dengan tasyji’ (motivasi), tau’iyah (penyadaran), taqwiyah (penguatan), tarbiyah fikriyah dan harakiyah.

Semoga Allah SWT meridhai apa yang kita rencanakan dan apa yang nanti akan kita realisasikan, serta mencatatnya sebagai bagian dari amal kebaikan kita. Besar harapan kita juga setiap tadhhiyyah (pengorbanan) yang kita berikan, jerih payah dan kerja keras kita untuk dakwah ini akan diganjar-Nya dengan ganjaran yang besar dan mengantarkan kita kepada surga-Nya, amiin yaa rabbal ‘alamin. [TP/ZJ]

bersambung…

Tebarkan Kebaikan
whatsapp