MENIKAH UNTUK MEMUPUK KEIMANAN

Inspirasi Qur’ani
Membangun Keluarga Samawa

03 Ramadhan 1443 H

05 April 2022 M

Allah swt. berfirman :

(وَمِنۡ ءَایَـٰتِهِۦۤ أَنۡ خَلَقَ لَكُم مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ أَزۡوَ ٰ⁠جࣰا لِّتَسۡكُنُوۤا۟ إِلَیۡهَا وَجَعَلَ بَیۡنَكُم مَّوَدَّةࣰ وَرَحۡمَةًۚ إِنَّ فِی ذَ ٰ⁠لِكَ لَـَٔایَـٰتࣲ لِّقَوۡمࣲ یَتَفَكَّرُونَ)

Artinya : Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (QS. Ar Rum; 21)

Ayat ini sangat familier di telinga kaum muslimin. Sering diperdengarkan ketika acara walimatul ursy. Andapun tentunya sudah hafal bukan? Karena sudah sangat familier, maka saya tidak akan membahas ayat ini dari sisi pertemuan seorang laki-laki dan perempuan, akan tetapi saya melihat ayat ini dari sisi yang lain, yang sesungguhnya hal itu menjadi salah satu tujuan asasi sebuah pernikahan.

Sesungguhnya ayat ini diletakkan Allah swt. di tempat yang sangat spesial. Diantara ayat-ayat yang didahului dengan kalimat wamin ayatihi (dan sebagian diantara tanda-tanda kebesaran-Nya). Diantara ayat-ayat tentang penciptaan langit dan bumi, hujan, petir, tegaknya langit, kiamat yang menggoncang bumi serta membangunkan seluruh penghuni di dalam bumi. Semua fenomena luar biasa ini disampaikan Allah swt. dalam sebuah urutan ayat yang sangat indah. Dia ingin menegaskan bahwa cukup dengan melihat fenomena alam semesta itu manusia akan mampu menemukan sang pencipta dan penguasa. Dan menariknya, di situlah Allah swt menampilkan ayat tentang rumah tangga ini sebagai sebuah tanda-tanda kebesaran-Nya. Bagi anda yang memiliki sensitivitas tinggi, akan menemukan inspirasi yang luar biasa dalam syariat pertemuan laki-laki dan perempuan ini.

Untuk apa ayat-ayat ini ditampilkan? Tentunya Dia tidak sembarangan menempatkan ayat ini, juga bukan kebetulan ayat itu diletakkan, sebab tidak ada yang sia-sia dalam semua ayat-ayat Al Qur’an.

Penyebutan akal di setiap akhir ayat memberikan pesan agar manusia menggunakan akalnya untuk berfikir dan menemukan hakikat setiap penciptaan di sana. Penciptaan langit, bumi beserta segala isinya, silih bergantinya siang dan malam hari, turunnya hujan, dan penciptaan manusia dalam kondisi berpasang-pasangan, semua adalah tanda-tanda kebesaran Allah swt. Semua diciptakan dengan penuh keserasian dan melengkapi keindahan dalam kehidupan manusia dimaksudkan agar mereka menemukan hakikat ketuhanan yang sesungguhnya. Sebagai seorang makhluk yang harus menghambakan diri kepada penciptanya, selayaknya semua hal itu mampu menjadikan mereka semakin tunduk kepada semua hukum-hukum yang telah ditetapkan-Nya.

Secara khusus, Perintah berfikir dalam ayat tentang penciptaan manusia dan pasangannya ini juga harus menghasilkan aktifitas dzikir, yaitu mengingat akan kebesaran dan kekuasaan Allah swt dalam proses berumah tangga. Pertemuan laki-laki dan perempuan dalam ikatan pernikahan ini harus mampu menghantarkan keduanya menjadi insan yang senantiasa berdzikir, mengingat serta menjadikan Allah swt. sebagai orientasi niat dan tujuan dalam segala aktifitas berumah tangga.

Coba kita resapi, lihatlah kekuasaan-Nya disana. Siapa yang menentukan jodoh kita? Bisakah kita memastikan seseorang akan menjadi pendamping kita? Betapa banyak orang yang membangun hubungan bertahun-tahun, namun akhirnya kandas sebelum pernikahan. Betapa banyak pula orang yang sudah membina rumah tangga bertahun-tahun, bahkan sudah menjadi kakek-kakek dan nenek-nenek, namun pada akhirnya harus mengalah dengan takdir. Berpisah karena retaknya bahtera rumah tangga yang kadang kala juga disebabkan hal-hal sepele. Apakah ada manusia yang mampu membelokkan takdir itu? Temukanlah ayat Allah swt di sana.

Karena orientasi menikah adalah ibadah dalam rangka semakin mendekatkan diri kepada-Nya, maka pastikanlah orientasimu lurus dan tepat sasaran.

🔝 Ketika memilih pasangan, pastikan jalan Allah swt yang engkau susuri, bukan dengan cara mengumbar hawa nafsu, berpacaran, berduaan dengan orang yang bukan muhrim. Bahkan hidup berdua tanpa status yang jelas. naudzubillah. Bagaimana kita akan menemukan ayat Allah swt kalau jalan kita jauh dari petunjuk-Nya
🔝 Ketika seorang suami memberikan nafkah kepada istrinya juga harus menjadi bagian dzikir kepada-Nya. Carilah Rizki yang halal dan belanjakanlah di jalan yang halal sehingga mendatangkan ridha-Nya
🔝 Ketika seorang istri mengurus rumah tangga, harus menjadikan dirinya semakin ingat kepada Allah swt. Menyadari bahwa dia sedang menjalankan amanah yang akan dipertanggungjawabkan di sisi-Nya, sehingga selalu berhati-hati dalam melaksanakannya
🔝 Ketika kedua suami istri mendidik dan membesarkan anak, harus mampu diwujudkan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah swt. Tidak sekedar konsekuensi logis dalam sebuah hubungan biologis laki-laki dan perempuan, namun harus dipahami bahwa anak adalah sebuah amanah yang harus dididik dan dibimbing ke jalan-Nya
🔝 Semua aktifitas berumah tangga, susah senangnya, sedih gembiranya, tertawa dan tangisnya… semua harus mampu dimaknai dalam rangka mengungkap tanda-tanda kebesaran-Nya.

Nah, indah bukan?
Jadi, tidak sekedar bras-bres mengejar kesenangan nafsu belaka sehingga jauh dari hidayah-Nya.

Berikutnya, setalah mampu memaknai semua hal itu dengan dzikir kepada Allah swt., selanjutnya bahtera rumah tangga suami-istri harus mampu menggerakkan hati masing-masing untuk semakin mendekat kepada Allah swt. Harapan akan kemuliaan di sisi-Nya melalui berumah tangga sebagian bagian raja’ kepada-Nya selalu tumbuh seiring lamanya rumah tangga itu dibangun. Sebaliknya, rasa takut akan tidak tertunaikannya amanah yang akan menjerumuskannya ke dalam neraka senantiasa mengiringi sebagai kontrol keimanan yang menjadi bagian khauf kepada-Nya. Perasaan ini yang akan mampu mengantarkan seorang muslim sujud tersungkur dan berhati-hati dalam setiap ucapan, tingkah laku, emosi, dan opsesi dalam berumahtangga agar senantiasa mengarah pada sebuah ucapan, “Ya Allah sungguh Engkau menciptakan ini tidak sia-sia, Maha Suci Engkau, maka jauhkan kami dari siksa api neraka.” Inilah yang dimaksukan oleh Allah swt. dengan penampakan tanda-tanda kebesarannya dalam Al Qur’an, yaitu untuk melahirkan manusia-manusia cerdas yang disebut dengan ulul albab. Allah swt. berfirman :

(إِنَّ فِی خَلۡقِ ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱخۡتِلَـٰفِ ٱلَّیۡلِ وَٱلنَّهَارِ لَـَٔایَـٰتࣲ لِّأُو۟لِی ٱلۡأَلۡبَـٰبِ) (ٱلَّذِینَ یَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ قِیَـٰمࣰا وَقُعُودࣰا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمۡ وَیَتَفَكَّرُونَ فِی خَلۡقِ ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تِ وَٱلۡأَرۡضِ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ هَـٰذَا بَـٰطِلࣰا سُبۡحَـٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ)

Artinya : Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. [Surat Ali ‘Imran 190-191]

Subhanallah, begitu mulianya syariat ini Begitulah manusia ulul albab. Mereka mampu mengungkap fenonema demi fenomena dengan kacamata kebesaran Allah swt. sehingga menjadikan hatinya terpaut dengan-Nya. Dalam berbagai kondisi, di waktu pagi, siang, malam. Ketika susah atau senang, semua akan menjadikan mereka semakin takut berlaku sewenang-wenang terhadap. Demikian pula dalam rumah tangga, Orientasi awal dalam proses pernikahan harus jelas, dari Allah, di jalan Allah dan untuk kemuliaan di sisi Allah. Dalam perjalanan membangum rumah tangga juga harus jelas, sesuai aturan-aturan Allah. Hak masing-masing suami istri harus terjamin, tidak dilanggar sebab ada perasaan diawasi oleh Allah. Cita-cita dalam membangun rumah tangga juga harus jelas, untuk Allah, maka jangan pernah menghianati-Nya.

▶️ Dengan hatinya ia mampu merasakan kehadiran Allah swt. dalam seluruh aktifitasnya. Dalam keadaan duduk, berdiri maupun berbaring dia ingat Allah. Di kantor, tempat kerja, lapangan, di hotel ia senantiasa ingat janji suci yang terjalin antara keduanya. Dia tidak pernah sedikitpun ada keinginan berpindah ke lain hati, karena ia selalu takut dengan Allah yang Maha Mengetahui gerak-gerik hati hamba-Nya, ia selalu takut mendustai ikatan suci yang dijalin atas nama-Nya. Keimanan membuahkan kecerdasan spiritual yang tinggi. Suami istri harus senantiasa bahu membahu mengimplementasi keimanan sampai berwujud dalam ketaqwaan. Saling memguatkan untuk menjaga salatnya, meningkat ibadahnya, membangunkan untuk bersujud di hadapan sang pencipta di penghujung malamnya. Begitulah baginda Rasulullah mengajarkan romantisme menuju surga.
Beliau bersabda, “Allah merahmati seorang suami yang bangun di malam hari lalu ia shalat dan membangunkan istrinya, jika sang istri enggan, ia percikkan air ke wajahnya. Dan Allah merahmati seorang istri yang bangun di malam hari lalu dia shalat dan membangunkan suaminya, jika sang suami enggan, ia percikkan air pada wajahnya” (HR. Abu Dawud)

▶️ Keimanan membuahkan rasa saling menyayangi antar kedua insan. Bertul-betul menjadi satu tubuh. Garwo : sigarane nyowo. Perasaan yang lembut dari seorang istri akan menumbuhkan pelayanan yang prima serta tanggungjawab yang paripurna untuk mengelola rumah tangganya. Demikian pula bagi suami, Keimanan ini akan mampu menggerakkan ia untuk menyayangi istri sepenuh hati, mencari nafkah yang halal bagi keluarga, sebab ia yakin bahwa semua akan dipertanggungjawabkan di sisi Yang Maha Kuasa. Menyatunya perasaan suami istri dalam ikatan pernikahan akan memunculkan kecerdasan emosional. Tidak asal main gebuk dengan pasangan, namun ia tersenyum dalam senyuman istri dan ia pun menangis dalam linangan air mata istrinya. Saling membantu dalam mengelola rumah tangga dengan menumbuhkan rasa empati, ngraosake punopo engkang dipun raosake tiyang sanes. (merasakan apa yang dirasakan orang lain). Kalau ia suka disayang, begitu pula pasangannya. Kalau ia sakit kalau dihianati, begitu pula tentunya yang dirasakan pasangannya.

▶️ Keimanan itu memunculkan tanggungjawab. Hubungan imbal balik yang harmonis antar suami istri. Mereka berebut menunaikan kewajiban tanpa mempedulikan hak yang harus diterima. Bukan menang-menangan, sebab rumah tangga bukan arena perlombaan, bukan saling menyalahkan, sebab rumah tangga bukan kuis, tidak seenaknya main pukul, sebab rumah tangga bukan arena tinju. Dalam diri istri ada hak suami yang harus ditunaikan. Sebaliknya dalam diri suami ada hak istri yang juga harus ditunaikan. Di sinilah berlaku itsar (mendahulukan kepentingan orang lain dari pada diri sendiri).

Bayangkan kalau fikrah ini kita bawa dalam rumah tangga. Bukankah menjadi idaman seluruh pasangan?
Sungguh hubungan yang romantis jika seorang suami menyadari bahwa ia mengemban amanah untuk memberi nafkah keluarganya. Bekerja dengan optimal, membimbing dengan penuh kesungguhan agar kebahagiaan mampu mereka raih. Demikian juga seorang istri yang diberi amanah mengurus rumah tangga, pun ditunaikan dengan sepenuh jiwa sehingga semua anggota keluarga menemukan kebahagiaan di rumahnya. Pernikahan harus mampu menyuburkan nilai keimanan di dalam jiwa masing-masing pasangan suami dan istri.

Jelaslah sudah, melalui ayat ini kita menemukan mutiara nan indah. Dalam syariat pernikahan, bukan hanya sekedar untuk melampiaskan kebutuhan biologis yang secara alamiah berakibat dengan lahirnya anak dari keduanya, namun sesungguhnya aktifitas pernikahan mempunyai tujuan mulia agar masing-masing suami dan istri mampu menjadikan dirinya lebih dekat dengan Allah, lebih meningkat imannya, lebih taat ibadahnya, lebih merasa diawasi oleh Allah swt dimanapun dia berada sehingga tidak sembarangan menghianati ikatan suci pernikahan dengan Wanita Idaman Lain (WIL) atau Pria Idaman Lain (PIL). Dan ujung-ujungnya pernikahan ini harus surga oriented. Harus mampu mengantarkan keduanya serta anak keturunannya menjadi penduduk surga dalam kondisi radhiyatan mardhiyyah (ridha dan diridhai). Jadi, ketika ada rumah tangga yang retak, waspadalah……mungkin ada yang eror dalam keimanan.

Semoga Allah membimbing hati setiap insan untuk senantiasa terpaut dengan-Nya, bersama meraih kebahagiaan di surga-Nya dengan keberkahan ikatan suci dalam rumah tangga. Amin.
〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️
Pati,
Alfaqir,
Pelayan SMPIT Insan Mulia Pati
Fullday and Boarding School
nanangpati@yahoo.co.id

Tebarkan Kebaikan
whatsapp