Puasa Kaum Milenial

#Artikel Ramadhan

#Hari ke 8

# Ust Anton

===============

Assalamualaikum Wr.Wb.
Alhamdulillah, Alhamdulillahi robbil alamin, washolatu wassalamu ‘ala asrofil ambiya’i wal mursalin, sayyidina wa habibina wa maulana Muhammadin, wa ‘ala alihi wasohbihi ajma’in. Amma ba’du, Marhaban ya syahru ramadhan Marhaban ya syahru syiam

Jamah kultum Rahimakumullah
Marilah senantiasa kita bersyukur kepada Allah SWT atas nikmat Isalm, Iman, dan Ihsan yang telah diberikan kepada kita semua, sehingga sampai detik ini kita masih diperkenankan untuk berjumpa dengan bulan suci ramadhan. Shalawat serta salam senantiasa kita curahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, yang insyallah kita tunggu syafaatnya di hari akhir nanti.

Saya Ustadz Anton, pada hari ke 8 Ramadhan ini, perkenankanlah untuk sedikit berwasiat, mengingatkan diri saya sendiri dan juga para jamaah kultum sekalian terkait dengan “Puasa Kaum Milenial”

Allah SWT berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 183:

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” (QS: Al-Baqarah ayat 183).

Siapa yang dimaksud dengan orang-orang yang beriman? orang-orang yang beriman adalah orang-orang yang mempercayai dengan sepenuh hati bahwa tiada tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah, semoga orang-orang yang mendengarkan kultum ini dimasukan Allah SWT ke dalam golongan orang-orang yang beriman, Insyaallah, aamiin.

Lalu… bagaiman jika kita sudah termasuk dalam golongan orang-orang yang beriman? Allah telah memberikan amanah kepada kita berupa kewajiban menunaikan ibadah puasa dibulan suci ramadhan, sebagaimana diwajibkannya atas orang-orang terdahulu sebelum kita (ahlul kitab/ para nabi), agar kita dapat meneladani, mencontoh bagaimana beliau-beliau mencapai kesempurnaan dalam melaksakan ibadah puasa bulan suci ramadhan, yang tujuan akhirnya adalah agar kita bertakwa kepada Allah SWT.

Sudahkah kita meneladani ibadah puasa Rasulullah? Berhasilkah kita menahan lapar, haus, amarah dan segalam macam hal yang membatalkan puasa ? Sempurnakah ibadah puasa yang kita lakukan selama ini? Pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh diri kita sendiri, karena sejatinya puasa tidak hanya berbicara soal menahan haus dan lapar saja, tetapi juga apa saja yang kita lakukan selama kita berpuasa… apa yang kita lakukan? Membaca Alquran? Menghafal Alquran? Iktikaf di masjid? Shalat tarawih? berolahraga? Membantu orangtua? bekerja ? atau malah bermalas-malasan, bermain video game online dan kegiatan tidak bermanfaat lainnya. Naudzubillahimindzalik

Mungkin kita bisa meghitung, menjumpai hanya sekelompok kecil orang-orang muslim yang benar-benar memanfaatkan ibadah puasanya untuk hal-hal yang bermanfaat, karena faktanya banyak orang muslim yang memanfaatkan kondisi berpuasa untuk bermalas-malasan dan melakukan hal-hal yang tidak ada manfaatnya…, dalam sebuah hadist disebutkan bahwa “seorang muslim yang kuat lebih dicintai oleh Allah SWT dibandingkan seorang muslim yang lemah” seharusnya hal ini menguatkan dan memotivasi diri kita untuk tidak bermalas-malasan ketika berpuasa.

Jamaah kultum Rahimakumullah…
Seperti apa suri tauladan Nabi Muhammad SAW dalam menjalankan ibadah Puasa ?
Selama hidupnya Rasulullah SAW hanya 9 kali menikmati puasa ramadhan, bahkan 2 dari 9 puasa ramadhan tersebut dilalui Rasulullah SAW dalam keadaan berperang, yaitu dalam perang badar dan perang fathu makkah, berbeda dengan kita yang sudah bisa menikmati puasa ramadhan, suasana bulan ramadhan dalam keadaan tenang dan bukan dalam keadaan perang, tentunya dengan jumlah yang lebih banyak dari Rasulullah yang hanya 9 kali, semoga kita senintiasa dipertemukan dengan bulan suci ramadhan yang berikut-berikutnya, aamiin.

Dalam perang badar dan fathu mekah yang dilalui oleh rasullah banyak sekali pembelajaran ataupun hikmah yang bisa kita ambil:
Yang pertama Rasulullah SAW tetap menjalankan keutaman-keutamaan ibadah dalam bulan suci ramadhan, walupaun dalam suatu perjalanan menuju medan peperangan Rasulullah SAW melihat sahabat dan pasukannya (Rombongan fathu makkah) kelelahan dan pada saat intu dalam keadaan berpuasa…
Rasul mendapat Rukhsah atau keringanan dari Allah SWT untuk segera berbuka, sehingga Rasulullah SAW meminta satu kantong air setelah shalat ashar dan meminumnya di depan muka umum. Sebagian sahabat mengikutinya, dan sebagian lagi tetap mempertahankan puasanya. Rasulullah berkata, “ûlaikal ‘ushâh, ûlaikal ‘ushâh / mereka adalah orang yang bermaksiat.” Kemudian Rasul meneruskan keringanan tersebuat sebagai sebuah keharusan / azimah untuk berbuka. Ini menunjukkan pentingnya menerima rukhsah (keringanan) dari Allah dan tidak memberatkan diri sendiri, sampai Rasulullah menggelari orang yang tetap berpuasa sebagai pelaku maksiat, tentu saja tujuannya agar mereka semua berbuka. Dalam riwayat lain, Rasulullah memerintahkan para sahabatnya secara langsung untuk berbuka, dengan tujuan untuk memperkuat diri saat menghadapi musuh.

Yang kedua Beliau menjalani puasa Ramadhan di saat-saat sulit, meski secara lahir mereka tidak berpuasa (berbuka), tapi secara hakikat, mereka terus berpuasa. Artinya, dalam keadaan perang sekalipun, mereka mampu menahan diri dari amarah, kebencian, dan kedengkian. Hal itu dibuktikan dengan perlakuan mereka terhadap penduduk Makkah yang penuh kasih sayang. Misal pun ada yang bersikap keras, nasihat Rasulullah seketika mengubahnya menjadi orang yang pengertian. Ingat, pengendalian diri bukan melulu soal kemampuan mengendalikan dirinya sendiri, tapi juga kemampuan menerima nasihat baik dari selainnya. dan itulah kenapa kita harus berpuasa.
Masyallah, lantas bagaimana dengan kualitas ibadah puasa kita hai orang-orang yang beriman?
Masih mau bermalas-malasan dan menjadikan puasa sebagai alasan untuk berdiam diri? mari kita bangkit mari kita munculkan kembali kejayaan islam pada zaman dulu, perubahan akan dimulai dari orang-orang yang mendengarkan kultum ini, insyaallah,
sebagai pendidik kita harus mampu mempersiapkan generasi penerus/anak didik kita menjadi generasi yang mampu mentauladani rasulullah, generasi yang mampu menjalankan aktivitas walaupun sedang berpuasa.
Dan saya mengajak kepada seluruh walidain untuk saling instropeksi diri, sudahkan kita menjadi contoh yang baik untuk generasi penerus? Jika generasi penerus yang kita berikan contoh masih bermalas malasan, masih bermain video game ketika berpuasa, jangan hanya dilarang, jangan hanya dimarahi, karena sejatinya mereka butuh contoh, butuh tuntunan, dan butuh difasilitasi untuk melakukan hal hal yang positif, apalagi dalam masa pandemi seperti ini yang masih menerapkan pembelajaran daring.
Jamaah Kultum Rahimakumullah…
Semoga yang sedikit ini dapat bermanfaat bagi kita semua, dapat meningkatkan keimanan, ketakwaan kita kepada Allah SWT.
Jika ada kekurangan itu murni datangnya dari saya, dan jika da kelebihan itu pasti datangnya dari Allah SWT.
Terimakasih
Wabilahitaufiq Wal Hidayah Wasalamualaikum Wr.Wb

Oleh Ust Anton Guru PJOK SMPIT Insan Mulia Pati

Tebarkan Kebaikan
whatsapp