Suamiku, Engkaulah Imamku

====================
Inspirasi Qur’ani
Membangun Keluarga Samawa

9 Ramadhan 1443 H

11 April 2022 M

Allah swt berfirman :

{ ٱلرِّجَالُ قَوَّ ٰ⁠مُونَ عَلَى ٱلنِّسَاۤءِ بِمَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بَعۡضَهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضࣲ وَبِمَاۤ أَنفَقُوا۟ مِنۡ أَمۡوَ ٰ⁠لِهِمۡۚ فَٱلصَّـٰلِحَـٰتُ قَـٰنِتَـٰتٌ حَـٰفِظَـٰتࣱ لِّلۡغَیۡبِ بِمَا حَفِظَ ٱللَّهُۚ وَٱلَّـٰتِی تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَٱهۡجُرُوهُنَّ فِی ٱلۡمَضَاجِعِ وَٱضۡرِبُوهُنَّۖ فَإِنۡ أَطَعۡنَكُمۡ فَلَا تَبۡغُوا۟ عَلَیۡهِنَّ سَبِیلًاۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِیࣰّا كَبِیرࣰا }

Artinya : kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu, maka wanita yang saleh ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri di balik pembelakangan suaminya oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kalian khawatiri nusuznya, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah diri dari tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menaati kalian, maka janganlah kalian mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Mahatinggi lagi Mahabesar. [Surat An-Nisa’: 34]

Ayat ini meunjukkan bagaimana keluarga dibangun dengan pembagian hak dan kewajiban yang proporsional antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki yang diwajibkan memberikan maskawin dalam proses pernikahan, sebagai seorang lelaki yang dipundaknya dibebakan berbagai tanggungjawab, dan dikaruniakan berbagai kelebihan di atas perempuan diamanahi menjadi dalam dalam keluarga. Seorang imam adalah pemimpin sekaligus pendidik untuk istrinya. Pemimpin yang menentukan arah bahtera rumahtangga, yang berkewajiban mengurus kebutuhan istrinya dan sekaligus bertanggungjawab atas kebaikan istrinya. Apa saja tugas pemimpin?

Pertama, sebagai seorang pemimpin, laki-laki harus mampu memberi keteladanan dalam kehidupan. Menyayangi istrinya dengan sepenuh hati, menjaganya dengan sekuat kemampuan dan senantiasa memberikan contoh-contoh kebaikan dalam kehidupan rumah tangga dan bermasyarakat. Seorang pemimpin adalah orang yang paling sayang dengan yang dipimpin, sebagaimana dicontohkan Rasulullah saw dalam sebuah firman Allah swt :

{ لَقَدۡ جَاۤءَكُمۡ رَسُولࣱ مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ عَزِیزٌ عَلَیۡهِ مَا عَنِتُّمۡ حَرِیصٌ عَلَیۡكُم بِٱلۡمُؤۡمِنِینَ رَءُوفࣱ رَّحِیمࣱ }

Artinha : Sesungguhnya telah datang kepada kalian seorang rasul dari kaum kalian sendiri, berat terasa olehnya penderitaan kalian, sangat menginginkan (keamanan dan keselamatan) bagi kalian, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. [Surat At-Taubah: 128]

Inilah watak pemimpin, berat terasa olehnya penderitaan kalian. Sikap ini melahirkan rasa empati seorang suami kepada istrinya. Tidak hanya menuntut hak, namun dengan sukarela dia komitmen melaksanakan kewajibannya. Bahkan, dia dengan sukarela membantu apa yang menjadi tugas istrinya. Tidak ada lagi sekat, ini pekerjaanku, ini pekerjaanmu, namun semua diselesaikan bersama dalam bingka tolong menolong dalam kebaikan dan taqwa. Dia tidak semena-sema dengan istrinya, sebab apa yang menjadikan istrinya sedih, juga menjadikan dia bersedih. Sifat penyayang ini juga yang disematkan Allah swt kepada sang khalilullah Ibrahim as. Dia sifati sang Nabi itu dengan firman-Nya :

{إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لَحَلِيمٌ أَوَّاهٌ مُنِيبٌ}

Artinya : Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi penghiba dan suka kembali kepada Allah. (Hud: 75)

Inilah sifat-sifat mulia para pemimpin yang begitu merindukan sebanyak-banyaknya kebaikan untuk orang-orang yang dipimpinnya. Demikian pula anda wahai para suami, hendaknya anda selalu berlatih untuk menyematkan semua sifat-sifat yang mulia ini dalam diri anda. Dengan itu istri anda akan semakin mendapatkan tempat bersandar yang menentramkan jiwanya sehingga rumah tangga anda akan menemukan sakinah mawadah wa rahmah.

Yang menarik juga disini adalah, yang kedua, seorang laki-laki yang harus mendidik istrinya. Sebagai seorang pemimpin, tidak hanya urusan jasmani yang diurus, tidak hanya mencukupinya dengan harta, perhiasan, dan seabrek kebutuhan fisik, namun kebaikan istri harus menjadi perhatian utama. Memanjakan istri dengan berbagai fasilitas materi hanya akan menjadikan rumah tangga kering karena jauhnya dari kekayaan spiritual, namun mencukupi istri dengan kebutuhan spiritual akan menjadikan perjalanan rumah tangga begitu indah. Bagaimana caranya? Kalau seorang suami mampu mendidik istrinya secara langsung, maka dia berkewajiban mendidiknya sehingga istrinya semakin memahami tugas dan perannya sebagai seorang hamba Allah SWT dan Khalifah di muka bumi ini. Namun kalau sang suami tidak mampu, maka dia berkewajiban memberikan fasilitas atau mengizinkan istrinya untuk menambah pengetahuannya. Jangan kunci istrimu hanya dalam urusan dapur, sumur dan kasur, namun antarnya dia mendatangkan majlis ta’lim agar keimanannya bertambah. Biarlah dia berkumpul dengan komunitas-komunitas kebaikan selama adab-adab Islami terjaga. Biarlah dia berkarir selama tugas dan perannya sebagai ibu rumah tangga mampu dilaksanakan dengan baik. Begitulah, hingga akhirnya istri mendapatkan tempat yang nyaman, bersandar di pundakmu dengan penuh kenyamanan. Kewajiban ini sesuai dengan firman Allah swt :

{ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ قُوۤا۟ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِیكُمۡ نَارࣰا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ عَلَیۡهَا مَلَـٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظࣱ شِدَادࣱ لَّا یَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَاۤ أَمَرَهُمۡ وَیَفۡعَلُونَ مَا یُؤۡمَرُونَ }

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan [Surat At-Tahrim: 6]

Imam Qatadah mengatakan bahwa makna ayat ini, hendaknya engkau perintahkan mereka untuk taat kepada Allah swt dan engkau cegah mereka dari perbuatan durhaka terhadap­-Nya. Dan hendaklah engkau tegakkan terhadap mereka perintah Allah swt dan engkau anjurkan mereka untuk mengerjakannya serta engkau bantu mereka untuk mengamalkannya. Dan apabila engkau melihat di kalangan mereka terdapat suatu perbuatan maksiat terhadap Allah swt, maka engkau harus cegah mereka darinya dan engkau larang mereka melakukannya

Alangkah indahnya kalau suami istri selalu menjaga salat berjamaah, membaca Al Qur’an bersama bahkan saling membangunkan untuk qiyamullail di tengah malam. Bukankah Allah swt sangat memberi apresiasi kepada pasangan suami istri yang saling membangunkan untuk qiyamullail bersama. Rasulullah saw bersabda :

“Semoga Allah memberi rahmat seorang laki-laki yang bangun malam kemudian shalat, lalu membangunkan isterinya kemudian shalat. Jika isterinya enggan ia memercikkan air di wajahnya. Dan semoga Allah memberi rahmat seorang wanita yang bangun malam kemudian shalat, lalu membangunkan suaminya kemudian shalat. Jika suaminya enggan ia memercikkan air di wajahnya.” (HR. Ibnu Majah)

Masyaallah, luar biasa bukan. Anda akan menemukan romantisme yang luar biasa dalam naungan Ridha-Nya ketika rumah tangga dibangun dengan landasan cinta karena Allah swt.

Yang terakhir, mari kita ingat bahwa setiap kita adalah pemimpin yang harus mempertanggungjawabkan kepemimpinannya di dunia dan akhirat. Di dunia, dia akan mempertanggungjawabkan kepemimpinannya di hadapan mertua yang telah mengikhlaskan anak yang dibesarkannya untuk anda, seseorang yang baru datang dan belum punya kontribusi dalam hidupnya. Juga tanggungjawab kepada masyarakat sebagai sebuah sistem kehidupan sosial. Di akhirat, tentunya semua akan dihisab oleh Allah swt untuk kemudian diberikan balasan sesuai dengan kadar kebaikan dan keburukan yang telah dilakukannya. Rasulullah saw bersabda :

Dari Abdullah, Nabi saw bersabda: Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang laki-laki adalah pemimpin atas keluarganya dan ia akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang wanita adalah pemimpin atas rumah suaminya, dan ia pun akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang budak juga pemimpin atas harta tuannya dan ia juga akan dimintai pertanggungjawabannya. Sungguh setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya (HR. Bukhari)

Wahai para suami, pahamilah posisi kalian, laksanakan amanah dengan sepenuh hati, bersungguh-sungguhlah, sebab keberhasilanku memimpin keluargamu akan engkau rasakan nikmatnya dalam rumah tanggamu dan juga akan mengantarkannya menuju kebahagiaan yang hakiki di surga.

====================
Pati,
Pelayan SMPIT INSAN MULIA PATI JATENG
Fullday and Boarding School
nanangsmpit@gmail.com

Tebarkan Kebaikan
whatsapp