TAATILAH ALLAH, MAKA DIA AKAN MENCUKUPIMU (2)

HIKMAH IDUL ADHA
➖➖➖➖➖➖➖➖➖

Allah swt. berfirman :

(أَفَغَیۡرَ دِینِ ٱللَّهِ یَبۡغُونَ وَلَهُۥۤ أَسۡلَمَ مَن فِی ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تِ وَٱلۡأَرۡضِ طَوۡعࣰا وَكَرۡهࣰا وَإِلَیۡهِ یُرۡجَعُونَ)

Artinya :
Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nyalah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa, dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan.[Surat Ali ‘Imran 83]

Saudaraku, ketika kita diingatkam dengan kisah Sang Khalilullah Ibrahim as. yang begitu taatnya kepada Allah swt. maka sepatutnya kita menjadikan momen Idul Adha tahun ini sebagai momen untuk menguatkan kepasrahan diri kita kepada-Nya. Sebab taat kepada Allah itu adalah fitrah alam semesta kepada Tuhan sang pencipta.

Lihatlah matahari yang tidak pernah membangkang sedetikpun dari kewajibannya, lihatlah tumbuhan yang tidak pernah tumbuh ke bawah, sebab fitrahnya menjulang tinggi ke atas, lihatlah dan rasakanlah peredaran darahmu, bukankah ia begitu taatnya kepada aturan sang pencipta, tak pernah terhenti sedetikpun, sebab ia tahu bahwa keluar dari fitrah itu akan menjadikanmu sengsara.
Ketaatan kepada Allah swt. hendaknya dilandasi dengan kepasrahan total dan keyakinan akan jaminan dari-Nya. Hal itulah yang bisa kita pahami dari kisah ibunda Hajar. Ketika beliau bersama sang bayi yang masih dalam gendongannya ditinggalkan sang suami di sebuah lembah yang tandus, tanpa sumber penghidupan, tanpa teman dan hadai taulan, tanpa daya dukung yang bisa dilihat dan jaminan masa depannya, maka ketika beliau yakin bahwa itu adalah perintah Allah, maka kalimat yang terucap dari hati yang taat itu adalah : “Kalau begitu, aku yakin pasti Allah tidak akan menyia-nyiakan kami”. Inilah taat yang sesungguhnya.

Kisah ketaatan itu juga tergambar dari kisah para sahabat yang mulia. Ketika mereka dituntut untuk mengikhlaskan semua yang dimilikinya, ditukar dengan ridha Allah dan Rasul-Nya. Ketika perintah hijrah terdengar, maka panggilan iman itu menggema indah di dalam relung hati mereka. Tak perlu berpikir panjang, mereka tinggalkan keluarga yang tidak bisa seaqidah, mereka tinggalkan aset bisnis yang sudah dirintis bertahun-tahun, mereka tinggalkan prestise yang melekat dalam strata sosial mereka. Semua dibarter dengan ridha Allah dan Rasul-Nya. Apa yang terjadi? Maka Allah bukakan kemenangan demi kemenangan dan Allah kembalikan semuanya kepada mereka. Mereka mendapatkan keluarga baru di Madinah, mendapatkan pekerjaan baru, bahkan banyak yang sukses menjadi saudagar, mendapatkan kedudukan yang mulia di masyarakat, bahkan kemuliaan di sisi-Nya yang tidak bisa disandingkan dengan semua kemuliaan di dunia.

Demikian juga ketaatan para sahabat ketika turun ayat tentang haramnya khamr. Dengan penuh ketaatan, mereka buang semua persediaan yang mereka simpan di rumah, bahkan mereka keluarkan semua yang masih di kerongkongan. Itulah taat.

Ketaatan yang ditampilkan dalam syariat adalah totalitas dengan sepenuh keyakinan melaksanakan semua perintah dan menjauhi segala larangan yang datang dari yang pemilih otoritas hukum di alam semesta ini. Ketika Allah sudah menetapkan sesuatu maka tidak ada kata lain baginya kecuali sami’na wa atha’na, kami dengar dan kami taat. Tidak ada ruang untuk berpikir keuntungan baginya. Tidak ada waktu untuk menimbang kapan waktunya. Tidak ada alasan untuk mengelak darinya. Semua dilakukan dengan landasan iman dan sepenuh keyakinan bahwa ketaatan ini akan mengantarkan kepada kemuliaan.

Bagaimana dengan momen Idul Adha? Hendaknya kita kuatkan keyakinan kita kepada-Nya. Banyak orang yang diberi kelapangan rizki, namun belum juga tergerak untuk berangkat ibadah haji. Belum dipanggil katanya, nunggu anak-anak mapan alibinya. Bahkan banyak kaum muslimin yang mampu membangun pagar rumah dengan mewah, mampu membeli sepeda berjuta-juta, mampu jalan-jalan bertamasya kemana-mana, namun belum belum juga tergerak untuk berkurban walaupun dengan seekor kambing. Bukankah Allah swt. berirman menasihati kita :

(وَمَا كَانَ لِمُؤۡمِنࣲ وَلَا مُؤۡمِنَةٍ إِذَا قَضَى ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥۤ أَمۡرًا أَن یَكُونَ لَهُمُ ٱلۡخِیَرَةُ مِنۡ أَمۡرِهِمۡۗ وَمَن یَعۡصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَـٰلࣰا مُّبِینࣰا)
Artinya :
Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah sesat, dengan kesesalan yang nyata. [Surat Al-Ahzab 36]

🔝 Jangan lagi banyak berpikir untuk menyisihkan hartamu sehingga kamu bisa berkurban
🔝 Jangan lagi banyak pertimbangan untuk menguatkan azam beribadah di tanah suci, segera buka rekening khusus untuk tiket hajimu
🔝 Yakinlah, bahwa Allah swt. akan tidak akan menelarantarkanmu hanya karena kamu taat kepada-Nya.

=======================
Pati, 2 Agustus 2020
Pelayan SMPIT Insan Mulia Boarding School Pati
nanangpati@yahoo.co.id

Tebarkan Kebaikan
whatsapp