Month Of Change

Oleh Joko Susilo, S.Pd.I.

Ramadan menghampiri kita lagi. Bulan penuh keistimewaan bagi umat Islam ini telah datang kembali. Bulan yang kedatangannya oleh para ulama salaf bahkan ditunggu 6 sebelumnya. Bulan dimana kasih sayang Allah SWT berlipat ganda bagi ummat-Nya. Tetapi dengan datangnya kabar gembira ini apakah hanya sekadar lewat? Atau benar-benar menjadi kesempatan yang sangat berharga bagi kita?
Imam Al Jaairi mengatakan :
“Frase لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ atau agar kalian bertakwa maksudnya adalah agar dengan shaum (Ramadhan) itu Allah SWT menyiapkan kalian untuk bisa menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya”.
Artinya bahwa akhir dari proses shaum kita sebetulnya takwa. Proses shaum selama satu bulan yang akhirnya menjadi proses menuju takwa tersebut. Dengan kata lain Ramadann ini merupakan month of change atau bulan perubahan.
Syaikh Said Ramadhan Al-Buthi mengatakan bahwa Ramadan sejatinya merupakan refeleksi, momentum spiritual tertinggi seprang hamba yang meliputi 4 hal yakni Penyucian Jiwa (Tazkiyatun Nafs), Wujud Cinta dan Keridaan Allah, Puuncak Takwa dan Bulan Rahmat.
Dengan berproses melalui 4 hal yang dikatan oleh Syaikh Al-Buthi tadi seorang muslim harusnya benar-benar bisa bermetamorfosa dari hamba berkubang maksiat menjadi hamba yang bertubat. Seorang hamba yang berubah dari yang penuh kotoran hati menjadi murni kembali. Dari hamba yang jauh dari keyakinan dan ketakwaan menjadi hamba dengan puncak keteguhan iman dan takwa.
Semua amalan dalam bulan Ramadan ini adalah perantara agar kita bisa benar-benar menjadi insan yang bertakwa. Puasa, Qiyamu Ramadan, Tilawah, Murojaah hiangga Ziyadah Al Quran, bersedekah, zakat serta berbagai kebaikan lain yang membutuhkan effort jasad, hati hingga fikiran. Puasa merupakan perpaduan ketataan antara ketiganya. Hati yang tunduk atas titah Sang Ilah, fikir yang mengikuti perintah serta jasad yang menjalankan dengan segenap ridho tak bercelah.
Pada dasarnya semua itu adalah titik tolak perubahan bagi seorang hamba. Bukan sebuah momen sporadis yang hanya terjadi satu kali kemudian setelah itu hilang tidak berbekas. Seperti apa yang dikatakan Ibnu Rajab dalam Lathoiful Ma’araifnya :
“Seburuk-buruk kaum (adalah yang) tidak mengetahui hak Allah (untuk disembah) kecuali di bulan Ramadan (saja). Sesungguhnya orang saleh (adalah yang) mengamba (kepada Allah) dan bersungguh-sungguh (dalam ketaatan kepada-Nya) sepanjang tahun” Naudzubillah.
Begitu pula Allah memberikan pelajaran berharga bagi kita umat Islam dengan metamorfosa ulat menjadi kupu-kuupu. Ulat benar-benar berjuang “berpuasa” di dalam kepompong dengan seganp jiwa raganya. Ia tidak keluar sedikitpun dari kepomppong tersebut atau bahkan berlubang pun tidak. Ia kerahkan segenap kemampuannya dengan bersungguh-sungguh untuk menjadi makhluk yang berubah total.
Allah SWT berfirman : ”Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal.” (QS 3: 190).
Maka sudah seharusnya momen istimewa yang bulan sebelumnya senantiasa kita harapkan kehadirannya dengan berdoa :
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ
Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan bulan Sya’ban, dan sampaikanlah (umur) kami pada bulan Ramadhan.” (HR. Ahmad dan At-Thabrani).
Kemudian ketika ia datang lalu kita sia-siakan? Naudzubillah! Mari, kuatkan tekad untuk berubah. Yakinkan diri bahwa Ramadan ini adalah Month Of Change, Bulan Perubahan. Bertekad menjadi hamba yang bertakwa, hamba yang terbaik versi-Nya. Sehingga Ramadan yang setiap tahun datang mengahmpiri bukan hanya sekadar seremoni apalagi tradisi. Bukankan begitu? Wallahu A’lam Bishowab.

Tebarkan Kebaikan