LIMA TANTANGAN ORANG TUA DALAM PENDIDIKAN AQIL BALIGH :
MENYIAPKAN REMAJA MENENTUKAN ARAH
Oleh Diah Jumaroh, S.Pd.I.
Dalam Islam Pendidikan tidak hanya di pandang sebagai sarana peningkatan Ilmu pengetahuan dan ketrampilan saja, tetapi lebih dari itu sebagai media pembentukan karakter dan kepribadian muslim seutuhnya.
Pendidikan aqil baligh atau pendidikan remaja menduduki posisi strategis membentuk generasi muda yang mumayyiz dan mukallaf, remaja yang bertanggungjawab secara syariat atas semua pilihan tindakannya.
Dalam setiap tahap kehidupan seorang anak, tidak ada yang seunik dan sekompleks masa remaja. Periode transisi dari anak menuju dewasa, Dimana terjadi perubahan besar baik secara fisik, emosional, maupun psikologis. Demikian pentingnya fase ini maka pendidikan aqil baligh tidak hanya cukup untuk remaja saja akan tetapi penting juga kita sebagai orang tua untuk mendapatkan pendidikan aqil baligh sebagai bekal menghadapi dan mengarahkan anak remaja agar menjadi pribadi yang kuat untuk perkembangan remaja yang sehat dan harmonis.
Berikut Adalah lima tantangan yang sering dihadapi orang tua dalam proses pendidikan ini. Pertama, Perubahan fisik dan emosional yang cepat. Perubahan hormonal selama pubertas bisa mengakibatkan fluktuasi mood dan perilaku tidak terduga pada remaja. Orang tua mungkin merasa kesulitan untuk mengikuti dan memahami perubahan yang cepat ini. Selain itu, perubahan fisik yang cepat juga menimbulkan kecemasan, sehingga membutuhkan pendekatan yang sabar dan penuh pengertian dari orang tua. Mendampingi anak dalam masa ini membutuhkan ketrampilan komunikasi yang efektif dan kemampuan untuk membuka ruang diskusi yang aman dan terbuka tentang perubahan yang mereka alami.
Kedua, Navigasi Pendidikan Seksual dan Moral. Pendidikan seks adalah topik sensitif dan penting dalam periode aqil baligh. Menghadirkan Pendidikan seks yang penuh dengan nilai Islam dengan menjaga kesucian dan menghormati tubuh sebagai amanah Allah SWT seringkali merupakan tantangan. Peran kita menyampikan ini dengan cara informatif tapi juga sensitif dengan kebingungan yang mereka alami. Hal ini sambil disampaikan bagaimana batasan dalam syariat Islam.
Ketiga, pengaruh teman sebaya dan media sosial. Di era digital remaja sangat dipengaruhi oleh peer group dan media sosial. Orang tua berhadapan dengan tantangan untuk mengontrol dan mengawasi penggunaan media sosial tanpa terlihat terlalu membatasi, yang bisa memicu pemberontakan.
Keempat, mengembangkan kemandirian sambil menjaga ketaatan. Membantu remaja mengembangkan kemandirian sambil menjaga ketaatan terhadap prinsip-prinsip merupakan tantangan baginorantua. Orang tua perlu menemukan keseimbangan antara memberi anak ruang tumbuh, memandu serta membimbing mereja untuk tetap pada jalan yang benar. Ini membutuhkan pendekatan yang fleksibel, yang menyesuaikan kebutuhan dan kepribadian unik setiap anak.
Terakhir, Kelima, mempersiapkan rencana masa depan. Salah satu aspek penting dari Pendidikan aqil baligh adalah membantu remaja merencanakan masa depan mereka, termasuk pendidikan karir. Dalam masyarakat yang terus berubah dan bersaing, membimbing anak-anak untuk membuat keputusan yang bijak mengenai pendidikan lanjut dan peluang karir sesuai dengan nilai-nilai Islam merupakan tantangan. Orang tua perlu membekali dengan kemampuan untuk membuat keputusan yang akan membawa mereka menuju sukses dunia dan akhirat.
Pendidikan aqil baligh tidak hanya mengharuskan remaja untuk menyesuaikan diri dengan berbagai perubahan, tapi juga memrlukan kesabaran, pemahaman, dan dedikasi orangtua.
Menghadapi tantangan-tantangan ini dengan bijaksana dan hati-hati akan memungkinkan orang tua berhasil mempersiapkan mereka menjadi dewasa yang bertanggung jawab. Semoga!
