oleh Annisa Balqis Malik, S.Pd.
“Bagaimana sih standar kebahagiaan rumah tangga yang sebenarnya?”
Pertanyaan itu selalu menggantung dan menuntut jawaban yang melampaui sekadar sebuah foto keluarga yang terpampang rapi di setiap sudut rumah. Standar itu nyatanya tidak tertulis dalam bentuk apapun bahkan tidak juga sebagai tolak ukur yang bisa dijadikan patokan semua orang. “Karena kebahagiaan rumah tangga yang sejati adalah ketika keduanya memiliki definisi yang sama tentang apa yang membuat keduanya merasa puas dalam hubungan tersebut.” Sehingga tidak ada tolak ukur yang paling benar untuk mendeskripsikan standar kebahagiaan dalam rumah tangga yang sesungguhnya.
Sejatinya, kebahagiaan dalam rumah tangga yaitu ketika dua orang setuju untuk menjadi “tempat pulang” yang paling jujur bagi satu sama lain. Ia adalah ruang di mana dunia tak mampu memberinya tempat paling aman dan nyaman untuk berteduh. Standarnya bukanlah kesempurnaan, melainkan penerimaan. Bahagia itu ada ketika kita tidak perlu lagi berpura-pura menjadi pahlawan yang tak pernah lelah, karena di sana kita diizinkan untuk rapuh, jatuh, mengeluh, dan untuk menunjukkan luka tanpa takut akan dihakimi. Bukan juga berpura-pura untuk menjadi orang lain agar semua terlihat sempurna tanpa cacat. Justru di sanalah kamu hadir sebagai dirimu sendiri.
Lebih jauh lagi, standar itu terletak pada “irama komunikasi” yang diciptakan bersama. Ia adalah kesanggupan untuk tetap duduk berdampingan, meski baru saja melewati badai perbedaan pendapat. Sejatinya, berbeda itu lumrah dan wajar, apalagi dua kepala yang tak sama menetap dalam satu atap. Terkadang kita pun perlu banyak belajar untuk memaknai perbedaan sebagai proses menemukan sudut pandang yang sama. Karena perasaan bahagia itu terasa jika ego masing-masing perlahan luruh, digantikan oleh keinginan untuk memahami dan mengerti satu sama lain. Di dalam rumah yang bahagia, kata-kata adalah obat dari setiap luka, diamnya pun tidak pernah terasa mengancam dan menghukum, melainkan menenangkan serta meneduhkan. Namanya bahagia tidak mungkin memberikan tekanan, justru sebaliknya dia akan memberikan ketenangan dan ketenteraman.
Sebagaimana firman Allah dalam Al-Quran Surat Ar-Rum ayat 21 yang berbunyi:
وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةً ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ
“Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah bahwa Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari (jenis) dirimu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya. Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir”.
Surat Ar-Rum ayat 21 menegaskan bahwa pernikahan adalah tanda kebesaran Allah, di mana Dia menciptakan pasangan dari jenis manusia sendiri untuk menciptakan ketenangan (sakinah), serta menanamkan rasa cinta (mawaddah) dan kasih sayang (rahmah). Ayat ini menjadi landasan penting dalam membangun rumah tangga yang harmonis dan penuh berkah.
Akhirnya, kebahagiaan itu adalah pertumbuhan yang berjalan beriringan. Ia adalah dukungan yang tak bersuara dan kerelaan untuk saling menyangga saat salah satunya mulai goyah. Karena sejatinya semua itu tentang saling mengisi dan melengkapi satu sama lain. Standarnya sederhana namun mendalam, jika saat terbangun di pagi hari, kita merasa bahwa orang di samping kita adalah rekan terbaik untuk menghadapi ketidakpastian dunia, maka di sanalah kebahagiaan itu telah menetap.
Dengan demikian, bahagia itu sebenarnya sederhana, namun seringkali kita lah yang membuatnhya rumit. Ia hadir dalam jawaban atas satu pertanyaan “Bagaimana mungkin aku tidak bahagia, jika ada seseorang yang jelas-jelas memilih untuk mengabdikan seluruh hidupnya bersamaku?” Di antara jutaan orang di dunia, ia menjatuhkan pilihannya padamu, bersedia berbagi beban, tawa, masalah, hingga hari-hari yang seringkali membosankan. Itu bukan sekadar cinta, tetapi itu adalah bentuk penyerahan diri yang paling mulia.
