Tanaman Kita

Tanaman Kita

Oleh : Arum Naila S.

 

Dalam menjalani kehidupan, kita sering kali terjebak dalam persepsi bahwa setiap kebaikan yang kita lakukan adalah bentuk pengorbanan untuk orang lain. Kita merasa telah berjasa saat membantu sesama, merasa telah memberi saat bersedekah, atau merasa telah berkorban saat menunjukkan bakti kepada keluarga dan guru. Namun, di balik semua interaksi sosial tersebut, ada satu hakikat fundamental yang harus kita genggam erat: bahwa orang pertama yang merasakan dampak dari setiap inci perbuatan kita adalah diri kita sendiri.

Sering kali kita menganggap bahwa kebaikan yang kita tebar adalah “hadiah” murni untuk orang lain. Kita merasa telah menjamin masa depan anak, membahagiakan pasangan, atau memuliakan orang tua. Memang benar, mereka mungkin merasakan manfaat atau efek dari perbuatan kita. Namun, sadarilah bahwa mereka hanyalah “penerima kedua”. Penerima pertama, utama, dan paling langsung dari setiap perbuatan adalah sang pelaku, yaitu diri kita sendiri.

 

Setiap perbuatan manusia ibarat gema di tengah lembah; ia akan selalu kembali kepada sumber suaranya.  Di dalam Al-Qur’an, prinsip ini ditegaskan secara gamblang: “Jika kamu berbuat baik, (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian) itu untuk dirimu sendiri.” (QS. Al-Isra: 7).

 

Saat kita menanam benih kebaikan, hati kitalah yang pertama kali merasakan ketenangan. Saat kita memberikan senyuman yang tulus, saraf wajah dan batin kitalah yang pertama kali merasa rileks. Dan saat kita memutuskan untuk memaafkan, beban di pundak kitalah yang pertama kali terangkat. Bukan orang tua kita, bukan pasangan kita, bukan pula rekan kerja kita yang mendapatkan “getaran” pertama dari energi positif itu. Efeknya kembali ke diri kita dalam bentuk kedamaian batin, kesehatan mental, hingga keberkahan hidup yang sering kali datang dari jalan yang tidak terduga.

 

Menanam kebaikan bukanlah aktivitas musiman atau tindakan yang hanya dilakukan saat kita merasa sedang “mampu”. Kebutuhan jiwa kita akan kedamaian dan keberkahan adalah kebutuhan sepanjang hayat. Jika kita hanya berbuat baik di saat-saat tertentu, itu berarti kita hanya peduli pada kualitas hidup kita pada saat-saat tertentu juga. Padahal, kebaikan adalah investasi kepada nasib kita sendiri.

Jika kita sadar bahwa semua perbuatan pada akhirnya akan pulang ke “rumah” asalnya, maka kita tidak akan lagi merasa rugi saat menolong orang lain. Kita tidak akan lagi merasa “dimanfaatkan” saat menunjukkan ketulusan. Sebab, kita tahu persis bahwa kita sedang membangun benteng perlindungan untuk diri kita sendiri. Kita sedang menyemai benih yang buahnya akan kita petik sendiri di masa depan.

 

Setiap bulir kebaikan yang kita sebar tidak akan pernah salah alamat. Ia tidak akan tersesat ke tangan orang lain tanpa melewati diri kita terlebih dahulu. Bukankah kebaikan itu sejatinya untuk diri kita sendiri? Bukankah semua perbuatan itu akan kembali ke titik asalnya?

 

Mari terus menanam dengan tulus, di mana pun dan kapan pun. Jangan pernah lelah menebar benih yang baik, karena pada akhirnya, kitalah yang akan memanen buah kebahagiaan itu pertama kali—hari ini, esok, dan selamanya.

Tebarkan Kebaikan