SUDAHKAH KITA BERHUSNUDHON

SUDAHKAH KITA BERHUSNUDHON

Oleh Abdul Mukhlis, S.Pd.I.

Hidup seorang mukmin tidak pernah lepas dari ujian. Kadang berupa kesempitan rezeki, kadang berupa sakit, kegagalan, atau masalah keluarga. Dalam keadaan seperti itu, yang pertama kali diuji sebenarnya adalah hati kita: apakah kita tetap berhusnudhon kepada Allah atau justru berburuk sangka? Allah telah memberi pedoman dalam Al-Qur’an QS. Al-Baqarah ayat 216:

وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْـًٔا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْـًٔا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Artinya: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu; dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Ayat ini mengajarkan bahwa pengetahuan manusia sangat terbatas. Kita hanya melihat permukaan, sementara Allah mengetahui hakikat dan akibat dari segala sesuatu. Ketika rencana kita gagal, bisa jadi Allah sedang menyelamatkan kita dari keburukan yang tidak kita sadari. Ketika kita kehilangan sesuatu, bisa jadi Allah sedang membersihkan hati kita dari ketergantungan yang berlebihan. Husnudhon kepada Allah melahirkan sikap sabar (ṣabr), tawakal, dan ridha. Orang yang berhusnudhon tidak mudah menyalahkan takdir, tidak berkata kasar kepada keadaan, dan tidak merasa Allah tidak adil. Ia yakin setiap keputusan Allah pasti mengandung rahmat, meskipun prosesnya terasa pahit.

Selanjutnya, husnudhon kepada sesama manusia juga sangat ditekankan. Banyak keretakan hubungan terjadi bukan karena fakta, tetapi karena asumsi. Allah memperingatkan dalam Al-Qur’an QS. Al-Hujurat ayat 12:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa.”

Perhatikan bahwa Allah menggunakan kata ijtanibū (jauhilah), yang menunjukkan perintah tegas untuk menghindari prasangka buruk. Mengapa? Karena prasangka buruk mudah berkembang menjadi ghibah, fitnah, bahkan permusuhan. Ketika kita membiasakan diri berpikir negatif tentang orang lain, hati menjadi keras dan hubungan menjadi renggang. Sebaliknya, husnudhon menumbuhkan empati. Kita belajar berkata dalam hati, “Mungkin dia punya alasan,” atau “Mungkin saya belum memahami keadaannya.” Sikap ini menjaga ukhuwah, memperkuat persaudaraan, dan menenangkan jiwa. Orang yang berhusnudhon tidak mudah tersulut emosi dan tidak terburu-buru dalam menilai.

Kemudian, ada sisi yang sering terlupakan, yaitu husnudhon terhadap diri sendiri. Terkadang seseorang rajin berbaik sangka kepada orang lain, tetapi sangat keras terhadap dirinya sendiri. Ia merasa tidak layak, merasa selalu gagal, dan merasa dosanya terlalu besar untuk diampuni. Padahal Allah telah berfirman dalam Al-Qur’an QS. Az-Zumar ayat 53:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Artinya: “Katakanlah (Muhammad), ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’”

Ayat ini menunjukkan betapa luasnya rahmat Allah. Bahkan kepada mereka yang “melampaui batas”, Allah masih memanggil dengan sebutan penuh kasih: yā ‘ibādī (wahai hamba-hamba-Ku). Ini adalah panggilan cinta, bukan panggilan murka. Maka tidak pantas seorang mukmin menutup pintu harapan yang telah Allah buka. Husnudhon kepada diri sendiri berarti yakin bahwa kita masih punya peluang berubah, masih bisa memperbaiki kesalahan, dan masih bisa menjadi lebih baik dari hari kemarin. Ini bukan kesombongan, melainkan bentuk keyakinan terhadap rahmat Allah.

Dengan demikian, husnudhon adalah fondasi ketenangan hidup. Kepada Allah, ia melahirkan keimanan yang kokoh. Kepada sesama manusia, ia melahirkan hubungan yang harmonis. Kepada diri sendiri, ia melahirkan optimisme dan semangat memperbaiki diri. Jika ketiga bentuk husnudhon ini tertanam kuat, maka hati akan lebih bersih, pikiran lebih jernih, dan langkah hidup lebih terarah menuju ridha Allah.

Tebarkan Kebaikan