Bagaimana Kalau Aku Tidak Baik-Baik Saja?

Bagaimana Kalau Aku Tidak Baik-Baik Saja?

Oleh Hanif Muslim

Beberapa waktu terakhir ini, entah kenapa, banyak orang terlihat baik-baik saja tapi sebenarnya tidak. Mereka tetap bekerja, tetap tersenyum, tetap hadir di acara keluarga, tetap membalas pesan dengan cepat. Namun di dalam hati, ada sesuatu yang berat. Ada yang dipendam. Ada yang sedang diperjuangkan diam-diam.

Mungkin pertanyaan itu pernah muncul dalam hati kita sendiri:

Bagaimana kalau aku tidak baik-baik saja?

Bagaimana kalau lelah ini sudah terlalu lama?
Bagaimana kalau doa-doa terasa seperti menggantung di langit?
Bagaimana kalau aku sudah berusaha, tapi tetap belum sampai?

Hidup hari ini terasa cepat. Tuntutan semakin banyak. Harga kebutuhan naik. Persaingan makin ketat. Media sosial menampilkan kehidupan orang lain yang tampak lebih rapi, lebih sukses, lebih bahagia. Tanpa sadar, kita mulai membandingkan. Mengukur diri dengan standar yang bahkan belum tentu nyata.

Padahal Allah sudah mengingatkan kita tentang hakikat kehidupan ini:

“Sungguh, Kami benar-benar akan menguji kamu dengan sedikit rasa takut, lapar, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah: 155)

Perhatikan kalimatnya. Bukan “mungkin diuji”. Tapi “akan diuji”. Artinya, ujian bukan tanda Allah tidak sayang. Justru itu bagian dari perjalanan menuju kedewasaan iman.

Di sebuah gang kecil di pinggiran kota, ada seorang lelaki bernama Pak Amir. Usianya hampir lima puluh. Dulu ia bekerja di sebuah pabrik. Hidupnya sederhana tapi cukup. Anak-anaknya sekolah, istrinya mengurus rumah. Sampai suatu hari pabrik itu tutup.

Pak Amir kehilangan pekerjaan.

Ia mencoba melamar ke sana-sini, tapi selalu gagal. Usia tidak lagi muda. Akhirnya ia membuka usaha kecil-kecilan, berjualan gorengan di depan rumah. Awalnya ia malu. Dulu ia memakai seragam rapi. Sekarang berdiri di depan wajan dengan asap mengepul.

Suatu sore seorang teman berkata, “Mir, kok jadi begini?”

Pak Amir hanya tersenyum. Tapi malam itu ia lama terdiam. Merasa gagal. Merasa turun derajat. Istrinya berkata pelan, “Yang penting halal dan kita tetap berusaha.” Kalimat itu sederhana, tapi meneguhkan. Karena dalam Islam, kemuliaan bukan diukur dari jabatan, tapi dari ketakwaan.

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurat: 13)

Bukan yang paling kaya.
Bukan yang paling terkenal.
Bukan yang paling dipuji manusia.

Beberapa bulan berlalu. Dagangannya mulai ramai. Tidak langsung besar, tapi cukup. Pak Amir pernah berkata kepada anaknya, “Nak, jangan pernah malu bekerja halal. Malu itu kalau kita berhenti berusaha.”

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik daripada hasil kerja tangannya sendiri.”
(HR. Bukhari)

Betapa agama ini memuliakan usaha, sekecil apa pun.

Kisah seperti Pak Amir mungkin tidak viral. Tapi justru seperti itulah kehidupan kebanyakan orang. Penuh jatuh bangun. Penuh rasa tidak percaya diri. Penuh doa yang dipanjatkan dalam sunyi.

Ada pula seorang ibu yang setiap hari terlihat ceria di pengajian. Ia rajin berbagi makanan. Orang-orang mengira hidupnya tenang. Tapi setiap malam ia menangis memikirkan anaknya yang belum juga mendapat pekerjaan tetap.

Ia pernah berkata, “Saya tidak minta hidup tanpa masalah. Saya cuma minta jangan sampai masalah itu menjauhkan saya dari Allah.”

Kalimat itu mengingatkan pada firman Allah:

“Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya).”
(QS. At-Talaq: 3)

Tawakal bukan berarti diam tanpa usaha. Tawakal adalah bekerja sekuat tenaga, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah dengan hati yang tenang.

Mungkin hari ini kita merasa tertinggal. Melihat orang lain lebih dulu berhasil. Padahal Allah sudah mengatur rezeki setiap hamba.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya ruhul qudus membisikkan ke dalam hatiku bahwa tidak satu jiwa pun akan mati sampai ia menyempurnakan rezekinya dan ajalnya.”
(HR. Ibnu Majah)

Artinya, rezeki kita tidak akan tertukar. Tidak akan direbut orang lain. Yang menjadi tugas kita adalah ikhtiar dan menjaga hati.

Ada kalanya doa terasa lama terkabul. Kita meminta pekerjaan, jodoh, kesehatan, kelapangan. Tapi belum juga datang. Di saat seperti itu, ingatlah firman Allah:

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 216)

Sering kali kita menilai dari potongan kecil cerita. Padahal Allah melihat keseluruhan.

Dan ketika rasa sesak itu datang, ketika kita benar-benar merasa tidak baik-baik saja, Allah sendiri yang menguatkan kita dengan janji-Nya:

“Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
(QS. Al-Insyirah: 5–6)

Ayat itu diulang dua kali. Seakan Allah ingin menenangkan kita, “Tenang… ada jalan. Tenang… ada solusi.”

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Semua urusannya baik baginya. Jika mendapat kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu baik baginya.”
(HR. Muslim)

Betapa indahnya cara pandang ini. Dalam lapang ada syukur. Dalam sempit ada sabar. Keduanya bernilai pahala.

Jadi, bagaimana kalau aku tidak baik-baik saja?

Tidak apa-apa.
Tidak harus selalu terlihat kuat.
Tidak harus selalu terlihat berhasil.

Yang penting, jangan lepaskan Allah dari hati kita.

Karena boleh jadi dunia melihat kita biasa saja. Tapi di sisi Allah, setiap sabar yang kita tahan, setiap air mata yang kita sembunyikan, setiap doa yang kita bisikkan — semuanya bernilai.

Barangkali hidup tidak akan pernah sepenuhnya mudah. Tapi ia bisa menjadi tenang jika hati kita bersandar pada-Nya.

Semoga ketika diuji kita tidak hancur. Ketika diberi kita tidak sombong. Ketika jatuh kita tidak putus asa. Dan ketika tiba saatnya pulang, kita membawa hati yang tenang.

Karena pada akhirnya, yang paling penting bukan seberapa sering kita terlihat baik-baik saja. Tapi apakah hati kita tetap bersama Allah, bahkan ketika kita tidak baik-baik saja.

Tebarkan Kebaikan