Parenting Nabi Ya’qub : Bukan Soal Anak Favorit Tapi Soal Hati yang Adil

Parenting Nabi Ya’qub :

Bukan Soal Anak Favorit Tapi Soal Hati yang Adil”

 

Oleh Shofiana, S.Pd.

 

Kita sering salah paham tentang satu hal.

Nabi Ya’qub ‘alaihis salam punya anak yang lebih ia cintai. Dan itu bukan dosa parenting.

Itu justru pelajaran parenting paling dalam yang jarang kita sadari. Al-Qur’an tidak menyembunyikan fakta itu.

Saudara-saudara Nabi Yusuf sendiri berkata:

“Sungguh, Yusuf dan saudaranya lebih dicintai ayah kita daripada kita.”

(QS. Yusuf: 8)

Artinya apa? Perasaan itu nyata. Terlihat. Bahkan terasa oleh saudara-saudaranya. Lalu apakah Nabi Ya’qub salah?

Tidak.

Hari ini pun begitu. Di banyak keluarga, ada anak yang lebih pendiam dan penurut, ada yang lebih berprestasi, ada yang lebih lembut sifatnya. Secara manusiawi, hati orang tua bisa saja lebih “klik” dengan salah satunya.

Masalahnya bukan pada rasa itu. Masalahnya adalah bagaimana rasa itu dikelola.

Ketika Yusuf kecil datang membawa mimpi luar biasa yakni sebelas bintang, matahari, dan bulan sujud kepadanya. Nabi Ya’qub tahu ini bukan mimpi biasa. Ini pertanda masa depan besar.

Tapi apa yang beliau lakukan?

Beliau tidak mengumumkannya Tidak memamerkannya.

Tidak membanggakannya di depan saudara-saudaranya. Tidak membandingkan.

Tidak berkata, “Lihat, Yusuf beda dari kalian.” Beliau justru berbisik lembut:

“Wahai anakku, janganlah engkau ceritakan mimpimu itu kepada saudara- saudaramu.”

(QS. Yusuf: 5) Ini luar biasa.

Beliau tahu Yusuf istimewa. Tapi beliau juga tahu, cara yang salah dalam memperlihatkan keistimewaan bisa menghancurkan hati anak-anak yang lain.

Berapa banyak hari ini konflik saudara muncul karena kalimat sederhana seperti, “Coba kamu kayak kakakmu.”

Atuh adikmu aja bisa.”

Kamu kok nggak sepintar dia?”

Kalimat-kalimat yang mungkin terasa biasa bagi orang tua, tapi bisa menjadi luka yang tumbuh diam-diam.

Nabi Ya’qub tidak menutup mata pada potensi Yusuf. Tapi beliau menjaga agar potensi itu tidak menjadi sumber kecemburuan yang semakin besar.

Lalu tragedi besar itu terjadi.

Yusuf hilang.

Kakak-kakaknya pulang membawa baju berlumur darah palsu.

Bayangkan posisi seorang ayah. Anak kesayangannya hilang. Hatinya hancur. Logikanya tahu ada yang tidak beres.

Apa reaksi Nabi Ya’qub?

Tidak ada bentakan. Tidak ada tamparan. Tidak ada pengusiran.

Tidak ada hukuman emosional. Beliau berkata:

“Maka kesabaran yang baik itulah (yang kupilih).”

(QS. Yusuf: 18)

Shabrun jamil. Sabar yang indah.

Bukan sabar yang dipenuhi keluhan ke manusia. Bukan sabar yang dibalut kemarahan.

Beliau menangis. Sampai matanya memutih karena sedih. (QS. Yusuf: 84)

Beliau tidak menekan emosinya. Tidak berpura-pura kuat. Beliau manusia. Beliau ayah. Beliau bersedih.

Tapi satu hal yang luar biasa, beliau tidak menghukum anak-anaknya dalam keadaan marah.

Ini pelajaran besar.

Berapa banyak orang tua hari ini yang mengambil keputusan saat emosi sedang memuncak? Saat kecewa, langsung mengucap kata-kata yang melukai. Saat marah, menghukum tanpa jeda. Anak salah sedikit, langsung keluar kata-kata seperti,

Kamu bikin malu keluarga.”

Kenapa sih kamu selalu begini?

Kamu memang nggak bisa diharapkan.”

Padahal mungkin yang dibutuhkan anak saat itu bukan bentakan, tapi arah dan pelukan.

Nabi Ya’qub mengajarkan, rasa sakit boleh ada. Tapi keputusan tidak boleh lahir dari kemarahan.

Dan yang lebih menyentuh lagi…

Setelah bertahun-tahun kehilangan, setelah air mata yang panjang, ketika anak- anaknya akhirnya mengakui kesalahan mereka, apa yang beliau lakukan?

Beliau tidak berkata, “Sekarang baru sadar?” Tidak berkata, “Ayah sudah tahu dari dulu.” Tidak mengungkit masa lalu.

Beliau berkata:

“Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Tuhanku.”

(QS. Yusuf: 98) Doa.

Bukan kutukan.

Bukan penolakan.

Doa.

Hari ini, berapa banyak orang tua yang ketika disakiti anaknya —entah karena pilihan hidup, kesalahan, atau sikap — langsung mengucap kalimat-kalimat yang berat? Padahal doa orang tua itu tajam.

Nabi Ya’qub memilih mendoakan, bukan melukai.

Inilah puncak kedewasaan seorang ayah. Ia tidak hanya mendidik dengan aturan, tapi dengan kasih yang tetap hidup bahkan setelah disakiti.

Dan menjelang akhir hidupnya, ada satu momen yang sangat menyentuh. Satu hal yang beliau pastikan:

Bukan soal warisan harta. Bukan soal bisnis keluarga. Bukan soal nama keluarga.

Beliau bertanya:

“Apa yang kalian sembah sepeninggalku?”

(QS. Al-Baqarah: 133)

Yang beliau pastikan bukan dunia mereka. Tapi tauhid mereka.

Itulah warisan terpenting.

Hari ini, kalau kita jujur bertanya pada diri sendiri. Kebanyakan orang tua lebih sibuk memastikan apa?

Anak masuk sekolah terbaik. Punya tabungan cukup.

Punya karier bagus.

Itu penting. Tapi apakah aqidah mereka sama seriusnya kita jaga?

Parenting Nabi Ya’qub bukan tentang tidak punya anak favorit. Tapi tentang mengelola cinta dengan hikmah, mengelola luka dengan sabar, dan mengelola kekuasaan sebagai orang tua dengan doa.

Beliau tidak sempurna karena tanpa masalah.

Beliau luar biasa karena cara beliau menghadapi masalah.

Dan mungkin pertanyaan yang perlu kita renungkan hari ini adalah: Kalau anak-anak kita suatu saat mengenang kita…

Apakah mereka akan mengingat perbandingan-perbandingan kita? Apakah mereka akan mengenang kemarahan kita?

Atau doa-doa kita?

Wallahu a’lam

Tebarkan Kebaikan