AL-QUR’AN SUMBER KETENTRAMAN JIWA

==============================
Hari ke-3
30 Hari Mencari Inspirasi
Bahagia Bersama Alquran

Allah swt berfirman :

الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ ۗ

Artinya : (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram. (QS. Ar ra’d; 28)

Dzikir adalah mengingat Allah swt, menyatukan antara ucapan dan hati agar bisa fokus kepada-Nya. Diantara kalimat dzikir adalah lafadl tasbih, tahlil, takbir, tahmid, dan lainnya. Diantara kalimat-kalimat dzikir itu, sesungguhnya Alquran adalah bagian dzikir yang menempati posisi mulia. Ayat-ayat Allah swt yang terhampar di sana dalam berbagai kalimat dan fenomena yang mampu menjadikan hati manusia mengingat Allah swt. dan terikat dengan berbagai sifat keangungan-Nya. Dengan sentuhan-sentuhan ayat inilah hati manusia tersirami seperti tanaman yang tersiram air. Mendengarkan saja mampu menghentak hati yang bersih untuk mengingat-Nya. Inilah hakikat dzikir yang sesungguhnya. Hal inilah yang terjadi dalam kehidupan Umar bin Khattab ra, ketika mendengar bacaan surat Thaha yang dibacakan Khabab al Arat pada saat sedang mengajar di rumah adiknya. Begitu mendengar bacaan ayat suci ini, luluh hati Umar bin Khattab. Yang tadinya mendatangi rumah adiknya untuk marah, berbalik menjadi tunduk kepada hidayah-Nya. Berbalik dari kemusyrikan menjadi mengesakan-Nya. Berbalik dari kemarahan menjadi kelembutan. Berbalik dari hati yang gundah gulana menjadi hati yang tenang.

Imam Nawawi menyampaikan dalam kitab Al Adzkar bahwa membaca Alquran adalah dzikir yang paling utama dibandingkan dzikir yang lain. Hal ini tidak lepas dari kemuliaan yang dimiliki Alquran, sebab tersimpan disana berlipat pahala dan keberkahan. Di dalam Alquran ada pengesaan kepada-Nya, ada penyucian, ada pujian, ada tadabbur alam, dan sebagainya. Maka bagi orang mukmin membaca Alquran ini menjadi saat-saat indah untuk merefresh diri dari urusan keduniaan. Hal ini juga dikuatkan dengan sabda Rasulullah saw. ketika beliau mengatakan kepada Bilal bin Rabbah “Ya Bilal, istirahatkan saya dengan shalat”. Melalui hadis ini kita menemukan bahwa dengan shalat yang didalamnya dipenuhi dengan bacaan Alquran ada sumber ketenangan jiwa yang akan mengantarkan pelakunya menuju puncak ketenangan karena dekatnya dengan sang Maha pemberi ketenangan. Karena keindahan ayat-ayat Alquran inilah Rasulullah saw, para sahabat ra. dan para ulama sering memanjangkan shalatnya dengan membaca beberapa ayat sembari mentadabburi maknanya atau bahkan menghatamkan Alquran dalam shalatnya.

Ketenangan yang merupakan bagian dari mukjizat Alquran ini tidak hanya dirasakan oleh manusia yang beriman, bahkan orang kafirpun mampu terpikat dengan keindahannya. Suatu malam Abu Jahal keluar secara diam-diam ke rumah Rasulullah saw. Dia mencuri dengar bacaan Alquran dari balik dinding rumah beliau. Tanpa terasa terangnya subuh mulai menggulung gelapnya malam. Merasa khwatir tindakannya diketahui orang lain, Abu Jahal pulang dengan langkah yang hati-hati. Tidak diduga, ternyata malam itu dia tidak sendirian menikmati indahnya bacaan Alquran di rumah Rasulullah saw. Di sisi lain ternyata ada dua temannya yaitu Abu Sufyan dan Al Akhnas bin Syuraiq yang juga sembunyi-sembunyi mencuri dengar. Mereka bertiga pun tak dapat lagi menyembunyikan rasa malu mereka. Akhirnya mereka sepakat untuk tidak lagi mengulangi perbuatan mereka.

Di malam kedua mereka tak mampu menahan diri untuk menimati keindahan Alquran. Mereka mengingkari janji lagi. Allah pun mempertemukan mereka kembali di jalan sehingga semakin malulah mereka. Merekapun kembali membuat janji untuk tidak mengulanginya.

Di malam ketiga, mereka tetap ingkar janji, mereka datang kembali untuk mencuri dengar bacaan Alquran Rasulullah saw. di rumahnya. Mereka pun berpapasan lagi untuk yang ketiga kalinya. Mereka mulai saling menyalahkan satu sama lain. Akhirnya, berjanji lagi, dan lagi. Masing-masing mereka berjanji akan mengakhiri perbuatan itu.
Kejadian itu membuat Akhnas bin Syuraiq bertanya-tanya, kenapa bisa terjadi seperti itu? Akhnas bin Syuraiq tidak bisa menahan dirinya untuk meminta pendapat tentang apa yang dirasakan oleh kedua temannya. Ia pun pergi ke rumah Abu Sufyan. “Ceritakan padaku wahai Abu Handhalah, apa yang kamu rasakan saat kamu mendengarnya dari Muhammad?”, tanyanya. Abu Sufyan menjawab, “Wahai Abu Tsa’labah, demi Allah, aku telah mendengar sesuatu yang aku tahu maknanya. Dan aku juga mendengar sesuatu yang aku tidak tahu maknanya”. Akhnas menimpali, “Dan aku, demi Allah, juga merasakan hal yang sama”!

Merasa mendapatkan kesan yang sama dari Abu Sufyan, Akhnas bergegas melangkah ke kediaman Abu Jahal untuk meminta pendapatnya. Diapun berkata : “Wahai Abul Hakam, apa yang kamu rasakan saat mendengar dari Muhammad?”. Abu Jahal menjawab, “Apa yang aku dengar?”. Dengan gaya diplomatis dan rasa gengsi yang tinggi ia berkata, “Kita telah bersaing dengan keturunan Abdi Manaf dalam kemulian. Mereka memberi makan orang, kita pun memberi makan orang. Mereka menolong orang, kita juga menolong orang, mereka memberi kita juga memberi, sampai kita kalah seperti halnya tadi malam. Seolah kita adalah kuda yang tergadaikan”. Akhnas berkata, “Aku tak perlu basa-basimu. Sekarang jelas, telah datang seorang Nabi dari bangsa kita, yang telah diberikan wahyu kepadanya. Kapan kita menyambut kesempatan yang emas ini?”. Dengan sombongnya Abu Jahal berkata, “Demi Allah kita tidak akan mengimaninya dan membenarkannya!”

Inilah perasaan orang kafir yang di balik kekafirannya masih merasakan keindahan dan ketenangan ketika berdekatan dengan ayat-ayat Alquran yang mulia. Hanya kesombongan saja yang menjadikan mereka tidak menemukan hidayah ke jalan yang lurus ini.

. ÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷××××××××÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷

Pati, 15/4/2021
Pelayan SMPIT INSAN MULIA FULL DAY AND BOARDING SCHOOL PATI JATENG
nanangpati@yahoo.co.id

Tebarkan Kebaikan
whatsapp