MENGAMBIL INSPIRASI DARI POLA PENDIDIKAN KELUARGA NABI IBRAHIM AS. (3)

🔛🔛🔛🔛🔛🔛🔛🔛🔛🔛🔛

Allah swt berfirman :

(رَّبَّنَاۤ إِنِّیۤ أَسۡكَنتُ مِن ذُرِّیَّتِی بِوَادٍ غَیۡرِ ذِی زَرۡعٍ عِندَ بَیۡتِكَ ٱلۡمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِیُقِیمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ فَٱجۡعَلۡ أَفۡـِٔدَةࣰ مِّنَ ٱلنَّاسِ تَهۡوِیۤ إِلَیۡهِمۡ وَٱرۡزُقۡهُم مِّنَ ٱلثَّمَرَ ٰ⁠تِ لَعَلَّهُمۡ یَشۡكُرُونَ)

Artinya : Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, (yang demikian itu) agar mereka mendirikan salat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. [Surat Ibrahim 37]

Sungguh do’a yang sangat luar biasa kandungannya, sekaligus sebuah inspirasi yang istimewa untuk generasi sesudahnya. Nabi Ibrahim as. berhasil menancapkan pilar-pilar pendidikan yang sangat kuat sehingga dengan itu mampu menjadikan anak dan istrinya manusia-manusia luar biasa yang menginspirasi dunia. Dari ayat ini kita dapatkan beberapa inspirasi, yaitu :

1. Urgensi lingkungan dalam pendidikan

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati”. Lihatlah, dimana beliau menempa pendidikan untuk anak dan istrinya? Beliau carikan tempat terbaik, yang Allah SWT akan senantiasa di sisi mereka. Pemilihan tempat ini sangat penting, sebab sebagai makhluk sosial manusia akan berkembang sesuai dengan lingkungan dimana ia tinggal. Walaupun secara fitrah manusia itu membawa semua kebaikan dari Tuhannya, namun seiring dengan pertumbuhannya mereka akan terkontaminasi dengan lingkungan dimana mereka tumbuh dan berkembang. Inilah yang dimaksudkan Rasulullah saw. dalam sabdanya :

Dari Abi Hurairah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : “Setiap anak dilahirkan dalam kondisi fitrah kecuali orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari Muslim)

Lingkunganlah yang menjadikan salah satu potensinya tumbuh lebih subur. Apakah nilai-nilai ketaqwaan atau keburukan (QS. As Syams: 8). Inilah yang dalam teori pendidikan disebut dengan teori belajar behavioristik yaitu sebuah teori yang dianut oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Manusia akan berkembang sesuai dengan stimulus yang diakan direspon dalam perubahan perilaku.

Untuk mengimplementasikan nilai-nilai, beberapa hal yang harus anda perhatikan dalam pendidikan yaitu :

a. Pilihkan untuk anak anda calon ibu terbaik

Kenapa kaitannya dengan calon ibu??? Sesungguhnya pendidikan itu dimulai dari sebelum anak lahir ke dunia. Seorang yang baik tidak akan sembarangan memilih pasangan, sebab hakikatnya mereka sedang memilih orangtua untuk anak-anaknya.

(ٱلۡخَبِیثَـٰتُ لِلۡخَبِیثِینَ وَٱلۡخَبِیثُونَ لِلۡخَبِیثَـٰتِۖ وَٱلطَّیِّبَـٰتُ لِلطَّیِّبِینَ وَٱلطَّیِّبُونَ لِلطَّیِّبَـٰتِۚ

Artinya : Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula); dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). [Surat An-Nur 26]

Posisi ini sangat strategis terutama bagi perempuan, sebab dia adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Selain ikatan psikologis yang akan berpeluang menurun kepada anak-anaknya, perilaku seorang ibu juga terkait langsung dengan pendidikan anak sejak mereka lahir. Karena peran edukasinya yang sangat Fital, maka pastikan bahwa seseorang yang akan menjadi ibu bagi anak-anakmu baik dalam ucapan dan tindakannya. Bahkan penelitian sederhana membuktikan bahwa seorang ibu yang hafal Al Qur’an lebih besar peluangnya menjadikan anak-anaknya hafal Al Qur’an dibandingkan seorang ayah yang hafal Al Qur’an. Hal ini tentunya tidak lepas dari peran seorang ibu yang mendominasi dalam pendidikan anak-anaknya.

b. Ciptakan lingkungan yang kondusif dalam keluarga anda

Selanjutnya, anda harus mampu menciptakan lingkungan keluarga yang ideal untuk anak-anak, sebab mereka akan tumbuh di dalam lingkungan tersebut. Siapa saja yang berpengaruh di sini? Semua anggota keluarga, termasuk orangtua kalau anda masih ikut orangtua, bahkan pembantu juga harus anda pastikan memilki akhlak yang baik.

Anak yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang penuh sopan santun tentu akan lebih tertata dibandingkan anak yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang setiap hari penuh intrik, kata-kata kasar dan kotor, bentakan dan cacian. Ingat, anak-anak belajar dari apa yang mereka lihat, dengar dan rasakan.

  • Anak yang terbiasa dicaci akan tumbuh dalam perasaan kecil hati
  • Anak yang sering disalahkan akan kehilangan kepercayaan diri
  • Anak yang selalu dibanding-bandingkan akan tumbuh menjadi seorang yang minder
  • Anak yang tumbuh dalam kebohongan akan terbiasa bersandiwara

Sebaiknya anda bersikap lemah lembut kepada anak. Menyanjung dengan seperlunya, menegur dengan cara yang santun dan terus membimbingnya dengan keteladanan. Ingat perintah Allah SWT kepada Nabi Musa as. ketika diutus berdakwah kepada Fir’aun.

(فَقُولَا لَهُۥ قَوۡلࣰا لَّیِّنࣰا لَّعَلَّهُۥ یَتَذَكَّرُ أَوۡ یَخۡشَىٰ)

Artinya : maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut. [Surat Tha-Ha 44]

Kalau dengan orang yang paling durhaka saja Allah swt memerintahkan berkata yang lembut, tentu anda tidak sedang bersama anaknya Fir’aun bukan???

c. Carikan lingkungan belajar yang baik

Lingkungan ketiga yang harus steril adalah sekolah. Di sanalah anak anda dididik untuk menjadi manusia di masa depan. Jangan sembarangan memilih sekolah, sebab di sana anak akan berinteraksi bersama guru, tenaga kependidikan dan teman-temannya. Di sana pula anak akan menghabiskan sebagian waktunya bersama pemandangan dan kalimat-kalimat yang akan mempengaruhi jiwanya.

Memilih guru adalah proses mengantarkan anak menuju masa depan. Seorang guru yang hebat akan mampu menginspirasi dan membimbing muridnya yang biasa menjadi manusia luar biasa. Lihatlah bagaimana kejelian Hannah binti Faqudz, istri Imran yang dengan segala obsesinya yang tinggi membimbing anaknya agar menjadi manusia luar biasa. Bahkan sejak anaknya masih di dalam kandungan beliau sudah mengarahkan agar anaknya menjadi pejuang di jalan Allah swt. Dari kedua orangtua yang hebat lahirnya manusia hebat, yaitu Maryam, ibunda Nabi Isa as. Yang menarik dari proses pendidikan Maryam adalah kejelian orangtuanya memilihkan guru bagi anak yang sudah lama diharapkan itu.

(فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُولٍ حَسَنࣲ وَأَنۢبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنࣰا وَكَفَّلَهَا زَكَرِیَّاۖ

Artinya : Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik, dan Allah menjadikan Zakaria pemeliharanya. [Surat Ali ‘Imran 37]

Agar tumbuh menjadi manusia yang baik, maka beliau dititipkan dalam asuhan seorang Nabi. Berkat didikan gurunya itulah Maryam tumbuh menjadi manusia yang selalu mendekatkan diri kepada Tuhannya, menjaga harga diri dan kehormatannya sehingga Allah swt muliakan, lahirlah dari beliau seorang Nabi pula.

Oleh karena itu, sekali lagi pastikan sekolah untuk anak anda diisi oleh guru-guru yang Solih dan solihah agar kebaikan mereka turun kepada anak anda. Agar keikhlasan mereka menjadi sumber keberkahan bagi kehidupan anak anda.

d. Pastikan lingkungan pergaulan anak anda steril

Faktor yang sangat berpengaruh juga bagi anak adalah lingkungan pergaulan. Ketika anak-anak sedang bermain dengan teman-temannya, sesungguhnya mereka sedang belajar tentang kehidupan. Ketika mereka menemukan teman yang baik insyaallah mereka akan tumbuh dalam kebaikan. Inilah yang dimaksudkan oleh Az Zarnuji dalam kitab Ta’limul Mutaallim :

عن المرء لا تسل وأبصر قرينه
فـإن القرين بالمقارن يقتدى

فإن كان ذا شر فـجنبه سرعة
وإن كان ذا خير فقارنه تهتدى

Artinya : Jangan bertanya siapakah dia? Cukup kau tahu oh itu temannya. Karena siapapun dia, mesti berwatak seperti temannya. Bila kawanya durhaka, singkirilah dia serta merta. Bila bagus budinya, rangkullah dia, berbahagia

Di zaman teknologi sekarang setiap orangtua harus sadar bahwa teman anak-anaknya terbagi menjadi dua. Ada teman nyata yang bisa disaksikan kebersamaannya bersama anak dan teman yang selalu berinteraksi dengan anak di dunia Maya. Waspadalah, sebab banyak anak yang terlihat sopan ketika di rumah, bertetangga dengan orang-orang baik, namun ternyata berinteraksi dengan orang-orang buruk di grup-grup media sosial. Bicaranya sopan, namun terbiasa mengumpat di medsos. Terlihat kalem, namun ternyata garang di medsos. Sebagai orangtua, anda harus memastikan bahwa anak anda bergaul dengan orang-orang yang baik di media Maya. Jangan bangga hanya karena mampu membelikan gudget yang mahal namun anda tidak memiliki kemampuan menggunakannya sehingga anak-anak tidak ada kontrol dalam menggunakannya. Jangan bangga karena anak anda terlihat tenang, duduk manis di rumah, sibuk bermain gadget, sedangkan anda tidak diberi kesempatan mengakses karena kecerdikannya memasang password. Ingatlah wahai orangtua bahwa anda bertanggungjawab atas semua hal yang terjadi pada diri mereka. Jadi, pastikan bahwa anak-anak berkawan baik dengan orang baik, baik di dunia nyata maupun di dunia Maya.

===========================

Pati, 12/11/2021
Pelayan SMPIT INSAN MULIA PATI
Fullday and Boarding School
nanangpati@yahoo.co.id

Tebarkan Kebaikan
whatsapp