SPIRIT PARENTING DARI KISAH NABI IBRAHIM AS. (2)

========================

Allah swt. berfirman :

رَّبَّنَآ إِنِّىٓ أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِى بِوَادٍ غَيْرِ ذِى زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ ٱلْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ فَٱجْعَلْ أَفْـِٔدَةً مِّنَ ٱلنَّاسِ تَهْوِىٓ إِلَيْهِمْ وَٱرْزُقْهُم مِّنَ ٱلثَّمَرَٰتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

Artinya : Ya Tuhan, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan (yang demikian itu) agar mereka melaksanakan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (QS. Ibrahim; 37)

Setelah pendidikan aqidah dan penjagaan lingkungan anak agar tetap dalam fitrahnya, langkah berikutnya dalam mendidik anak adalah menanamkan kewajiban mereka kepada Tuhannya. Shalat adalah implementasi dari kuatnya aqidah dan bukti ketundukan seorang hamba kepada Tuhannya. Inilah yang ditanamkan Nabi Ibrahim as. kepada anaknya. Dan ini pulalah yang diajarkan Luqman Al Hakim dalam mendidik anaknya. Setelah beliau tanamkan prinsip aqidah yang lurus, kejujuran dan kesadaran akan adanya pengawasan Allah swt, maka selanjutnya ia ajarkan anak-anaknya agar mendirikan salat.

Begitu pentingnya syariat salat ini sampai Rasulullah saw. mengajarkan secara rinci tentang etika mengajarkannya kepada anak. Rasulullah saw. bersabda :

عن عبدالله بن عمرو بن العاص رضي الله عنهما: أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ((مُرُوا أولادكم بالصلاة وهم أبناء سبع سنين، واضربوهم عليها وهم أبناء عَشْر، وفرقوا بينهم في المضاجع))؛ رواه أحمد وأبو داود،
_Artinya : Dari Abdullah bin Amr bin Ash ra. beliau berkata, bahwasanya Nabi saw. bersabda : Perintahkanlah anakmu salat ketika umur tujuh tahun dan pukullah mereka apabila meninggalkannya ketika umur sepuluh tahun dan pisahlah tempat tidurnya. (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Lihatlah saudaraku, untuk urusan salat, Rasulullah saw. sampai memberikan tuntunan yang sangat detil. Umur berapa mereka dikenalkan, dipahamkan sampai ada saatnya ketika mereka harus menerima konsekuensi apalagi mengabaikan perintah Allah swt. ini.

Ketundukan seorang mukmin kepada perintah ini akan memunculkan efek kebaikan tidak hanya terkait hubungannya dengan Tuhannya, namun juga akan berimbas kepada hubungannya dengan sesama. Allah swt. berfirman :

وَأَقِمِ الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ

Artinya : dan dirikanlah salat, sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (salat) adalah lebih besar (keutamaannya daripada ibadah-ibadah yang lain). (Al-‘Ankabut: 45)

Salat itu mengandung dua hikmah, yaitu dapat menjadi pencegah diri dari perbuatan keji dan perbuatan munkar. Maksudnya dapat menjadi pengekang diri dari kebiasaan melakukan kedua perbuatan tersebut dan mendorong pelakunya dapat menghindarinya

Ketika dipahami, sesungguhnya salat ini mendidik seseorang menjadi manusia yang disiplin, mempunyai komitmen dan berjiwa sosial. Syarat dan rukun yang harus ditunaikan, waktu yang harus dipegang teguh serta ajaran salat berjamaah sesungguhnya membentuk manusia agar mempunyai ikatan vertikal dan horizontal yang kokoh. Komitmen seseorang dengan Tuhannya akan memunculkan watak disiplin dan kemuliaan akhlak kepada sesama.

Dengan modal inilah harapannya anak akan mempunyai relasi yang kuat dengan sesama dalam kehidupan, maka Nabi Ibrahim as. sampaikan dalam do’anya “maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka”. Dari do’a inilah, lembah yang tandus itu berubah menjadi perkampungan yang sampai sekarang tidak pernah sepi. Penuh sesak dengan manusia yang memuji nama Tuhannya.

Kebaikan anak-anak akan menjadi daya tarik bagi manusia yang lain. Mereka merasa nyaman karena akhlaknya. Mereka merasa nyaman membuat relasi karena kejujurannya. Akhlak ini pulalah yang mengantarkan Muhammad mendapat julukan al amin di tengah-tengah masyarakat jahiliyah. Walaupun hidup di tengah perkampungan yang rusak, namun ikatan dengan Tuhannya membimbingnya menjadi manusia suci yang tidak pernah terkontamimasi sedikutpun dengan budaya buruk kaumnya.

Inilah yang diinginkan dari anak kita. Jadi apapun mereka, dimanapun mereka meniti karier, nilai-nilai luhur yang muncul dari ajaran agama yang mulia ini hendaknya terus menyinari dirinya, muncul dalam karakter sehari-hati, tidak mudah luntur dengan godaan dan rayuan lingkungan yang buruk.

Kondisi mental yang stabil ini diharapkan menjadi sebab Allah swt. menurunkan rizki yang melimpah kepada mereka. Sebagaimana Muhammad muda yang sukses menjajakan barang dagangan Khadijah dengan modal kejujuran, hendaklah orangtua tidak galau dengan rizki anaknya selagi sudah membekali dengan berbagai kebaikan di atas. Jangan sampai demi menggapai opsesi bisa belajar di sekolah tertentu atau bekerja di tempat tertentu orangtua menempuh segala cara yang jauh dari keberkahan bahkan secara langsung atau tidak mengajarkan keburukan kepada anaknya.

Yang harus dipahami, bahwa rizki itu adalah ketentuan Allah swt. yang sudah diputuskan dalam catatan di lauhul mahfudh sejak seseorang belum lahir ke dunia. Setiap orang tentunya ingin menjadi orang kaya, namun tidak selamanya kekayaan itu menjadi jalan mulia seseorang. Maka, berusahalah sebaik mungkin dan selebihnya serahkan kepada Allah swt. Bisa jadi orang awam yang tidak mempunyai apa-apa mempunyai kedudukan mulia di sisi Allah swt. Lihatkan Abdullah bin Ummi Maktum, seorang miskin yang buta, namun mampu menjadikan Allah swt. turun tangan untuk mengingatkan Rasul yang mulia. Lihatlah Bilal bin Rabbah, seorang mantan budak yang suara sandalnya sudah terdengar berjalan di surga ketika beliau masih hidup bersama manusia.

Tujuan pendidikan sesunnguhnya adalah menjadikan manusia pandai bersyukur. Melihat semua fasilitas dunia dengan kaca mata yang benar. Dengan ilmu pengetahuan dan kemampuannya mampu menjadikannya semakin dekat dengan Tuhannaya.

Bersyukur kepada Allah swt. juga bermakna mensyukuri semua jasa-jasa orangtua dalam mendidiknya. Allah swt. berfirman :

أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ (14)

Artinya : Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (QS. Luqman: 14)

Bersyukur kepada Allah swt adalah berterima kasih atas jasa semua orang yang telah ikut andil dalam mendidik dan mengawalnya sampai menjadi orang yang sukses.

Bersyukur berarti senantiasa menjaga kebaikam yang telah ada dalam dirinya. Terus diupayakan sampai kembali menghadap Allah swt. dalam kondisi terbaik yang mendatangkan ridha-Nya.

Bersyukur artinya sukses dalam membangun hubungan baik secara vertikal dengan komitmen melaksanakan ibadah dan semua ketaatan kepada Tuhannya, serta membangun hubungan horizontal dengan sesamanya dengan dihiasi akhlak yang mulia. Bermualah dengan penuh kasih sayang dan kejujuran.

Bersyukur artinya terus berkomitmen menjadi khalifah di muka bumi dengan menjalankan segala amal ibadah sebagai bentuk penghambaan diri kepada Allah swt.

(وَٱلَّذِینَ یَقُولُونَ رَبَّنَا هَبۡ لَنَا مِنۡ أَزۡوَ ٰ⁠جِنَا وَذُرِّیَّـٰتِنَا قُرَّةَ أَعۡیُنࣲ وَٱجۡعَلۡنَا لِلۡمُتَّقِینَ إِمَامًا)

Artinya : Dan orang-orang yang berkata, “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. [Surat Al-Furqan 74]

=========================
Pati, 19/11/2020
Pelayan SMPIT INSAN MULIA BOARDING SCHOOL Pati, Jateng
👉nanangpati@yahoo.co.id👈
081326595562

Tebarkan Kebaikan
whatsapp