WAHAI AHLUL QUR’AN, WASPADALAH TERHADAP RASA MALAS

=========================

Rasulullah saw. bersabda :

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، قَالَ: دَخَلَ رَسُولُ صَلَّى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ الْمَسْجِدَ، فَإِذَا هُوَ بِرَجُلٍ مِنَ الْأَنْصَارِ، يُقَالُ لَهُ: أَبُو أُمَامَةَ، فَقَالَ: «يَا أُمَامَةَ، مَا لِي أَرَاكَ جَالِسًا فِي الْمَسْجِدِ فِي غَيْرِ وَقْتِ الصَّلَاةِ؟»، قَالَ: هُمُومٌ لَزِمَتْنِي، وَدُيُونٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: «أَفَلَا أُعَلِّمُكَ كَلَامًا إِذَا أَنْتَ قُلْتَهُ أَذْهَبَ عَزَّ وَجَلَّ هَمَّكَ، وَقَضَى عَنْكَ دَيْنَكَ؟»، قَالَ: قُلْتُ: بَلَى، يَا رَسُولَ، قَالَ: ” قُلْ إِذَا أَصْبَحْتَ، وَإِذَا أَمْسَيْتَ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ، وَقَهْرِ الرِّجَالِ “، قَالَ: فَفَعَلْتُ ذَلِكَ، فَأَذْهَبَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَمِّي، وَقَضَى عَنِّي دَيْنِي. رواه ابو داود.

Artinya :
Dari Abu Sa’id Al-Khudri, ia berkata, Rasulullah saw. pada suatu hari masuk masjid, dan ternyata terdapat seorang sahabat dari Anshar yang dipanggil Abu Umamah, beliau bersabda, “Ada apakah gerangan aku lihat engkau duduk di masjid bukan pada waktu shalat?” Dia menjawab, “Kegundahan dan hutang yang selalu menyelimutiku wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Maukah aku ajarkan perkataan yang apabila kamu ucapkan maka Allah azza wa jalla akan menghilangkan kegundahanmu dan melunaskan hutang-hutangmu?” Dia berkata, “Ya, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Apabila kamu berada di pagi dan sore hari, maka ucapkanlah : Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kegundahan dan kesedihan dan aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan dan aku berlindung kepada-Mu dari sifat penakut dan bakhil (pelit) dan aku berlindung kepada-Mu dari terlilit hutang dan pemaksaan dari orang lain. Abu Sa’id Al-Khudri berkata, “Maka aku pun melaksanakannya dan ternyata Allah ‘Azza wa Jalla menghilangkan kegundahanku dan melunasi hutang-hutangku.” (HR. Abu Daud)

Wahai para pecinta kalam Allah, para penghafal Alquran. Berhati-hatilah dengan kondisi hati. Karena seringnya terbolak balik, maka hati disebut al qalbu.

  • Kadangkala semangat menggebu-gebu, namun dilain waktu tiba-tiba mengalami kemalasan tanpa mau berbuat sesuatu
  • Kadangkala cita-cita menjadi hafidzul quran itu tergantung jelas di depan mata, namun tiba-tiba bayangan itu hilang, malas tanpa tahu sebabnya
  • Kadang berbagai rintangan mudah ditaklukkan, namun kadangkala hanya karena sesuatu yang sepele menjadikan rontoknya azzam bersama Alquran.

Saudaraku, fitrah manusia memang tidak suka dengan sesuatu yang monoton. Jiwa ini lebih tertarik dengan sesuatu yang bervariasi. Bisa dibayangkan, kalau setiap hari berjibaku dengan hafalan, murajaah, tilawah yang tidak bisa ditinggalkan. Sebab berhenti sebentar saja, hafalan bisa kocar-kacir. Hal inilah yang kadangkala menjadikan banyaknya deretan orang-orang yang berguguran dalam proses menghafal Alquran.

Dalam hadis di atas Rasulullah saw. mengajarkan kepada kita agar melanggengkan do’a ini setiap pagi dan sore hari. Harapannya Allah swt. akan memberikan bimbingan agar setiap penghafal Alquran mempunyai imunitas yang kuat terhadap penyakit hati berikut ini.

  • Hamm; yaitu perasaan sedih dan galau yang disebabkan kekhawatiran akan terjadinya sesuatu yang tidak menyenangkan.

Perasaan ini bisa menghinggapi para calon huffadz. Karena kekhawatiran akan masa depan yang tidak jelas, takut akan terjadinya sesuatu yang dikhawatirkan berdampak yang citra dirinya atau bahkan tiba-tiba saja muncul perasaan tidak karuan yang dia sendiri tidak mengetahui dengan pasti apa penyebabnya. Hal ini kemudian menjadikan dirinya malas melakukan aktifitas apapun, termasuk juga malas tilawah, malas murajaah apalagi menambah hafalannya.

  • Al Hazan ; yaitu perasaan sedih yang disebabkan oleh kejadian tidak menyenangkan yang terjadi pada saat itu.

Penyakit ini lebih bisa dideteksi penyebabnya dan bisa segera dicari terapinya. Namun apabila tidak disikapi dengan baik hal ini juga bisa menjadi jebakan yang bisa merontokkan cita-cita menjadi ahlul quran. Kesedihan yang tidak dimenej dengan baik bisa menjeruskan seseorang kepada rasa malas berkepanjangan sehingga aktifitas bersama Alquran menjadi berantakan.

Bagaimana terapinya?
Penyakit al hamm ini lebih disebabkan karena lemahnya sikap tawakkal dan keyakinan akan qadha dan qadar Allah swt. Inilah cara setan menjauhkan manusia dengan sang pencipta. Maka harus diyakini bahwa semua yang telah digariskan oleh Allah pasti akan terjadi. Sebaliknya, seheboj apapun yang dikhawatirkan kalau Allah swt tidak mengehendaki, pasti tidak akan terjadi. Kuatkan hubungan dengan Allah, perbanyak dzikir dan berdoa, selanjutnya serahkan semuanya kepada-Nya saja. Teruslah bersama Alquran karena bisa jadi itu yang menjadikan Allah menurunkan rahmat-Nya dan menjadikan dirimu selamat dari berbagai kekhawatiran yang menggelayuti pikiran.

Demikian pula ketika dihampiri masalah yang menyebankan kesedihan, maka yakinilah bahwa tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan. Masalaj hanya cara Allah swt. menjadikam hamba-Nya menyadari bahwa Dialah tempat bergantung satu-satunya. Oleh karena itu, ikhtiyarkan segera menyelesaikan masalah itu sekuat kemampuan dan selanjutnya mohonkan kepada-Nya agar bebanmu dijadikan ringan. Ketika kesedihan menghampiri, justru itulah saatnya seorang hamba harus semakin mendekat kepada Tuhannya. Maka jangan tinggalkan Alquran, justru kuatkan interaksi dengan Alquran pada saat-saat seperti itu sehingga hatimu terhibur dengan indahnya janji-janji Allah swt. yang bertebaran di ayat-ayat Alquran.

Penyakit hati berikutnya adalah ajz dan kasal. Apa itu?

  • Al ajz ; adalah ketidakmampuan seseorang melakukan sesuatu karena tidak adanya sarana atau kekuatan untuk melaksanakannya. Ketika tidak membawa mushaf dalam perjalanan, ketika merasa tidak ada waktu, tidak mempunyai biaya untuk mondok, dsb.
  • al kasal ; adalah kondisi ketidakmampuan seseorang melakukan sesuatu dikarenakan tidak adanya keinginan melakukan hal itu. Faktor yang dominan dalam hal ini adalah tidak adanya keinginan.

Apakah kedua hal ini bisa menghalangi penghafal Alquran. Ya. Terutama al kasal/kemalasan. Bahkan yang sepertinya termasuk dalam kategori al ajz pun bisa jadi kalau ditilik lebih dalam lagi sesungguhnya bukan karena tidak ada kemampuan atau sarana, namun lebih didominasi ketiadaan kemauan untuk melakukannya. Ingat :

  • Faktor umur bukan sebab tidak mampu menghafal sebab banyak orang yang baru mulai menghafal di usia pensiun dan berhasil khatam 30 juz ketika tidak banyak aalasan
  • Ketika sedang dalam perjalanan dan tidak ada mushaf, bukan merupakan faktor untuk tidak bisa baca Alquran. Asal ada kemauan, maka juz amma bisa menjadi solusi dekat dengan Alquran. Atau bisa jadi mengulang-ulang beberapa ayat yang baru dihafal juga menjadi sarana untuk bisa merasakan keindahan bersama Alquran di tengah perjalanan.

Ingat, bukan tidak ada sarana. Bukan tidak ada kemampuan. Namun, kebanyakan tidak ada kemauan untuk mendekat kepada Alquran dan menjadikan bermunculannya alasan demi alasan. Dan setiap alasan itu benar, hanya menurut orang yang membuat alasan.

Semoga Allah swt. jauhkan kita dari penyakit hati ini.
Teruskan semangat.
Ukirlah sejarah hidup dengan kesungguhan.
Allahummarhamna bil quran.

===========================
Pati, 24/9/2020
Pelayan SMPIT INSAN MULIA BOARDING SCHOOL PATI
👉 nanangpati@yahoo.co.id.

Tebarkan Kebaikan
whatsapp